Aku
pernah berkata, ada orang kaya raya, auto Impala, auto Mercedes,
gedungnya tiga, empat, lima tingkat, tempat tidurnya kasurnya tujuh
lapis mentul-mentul. Tiap-tiap hari makan empat, lima, enam, tujuh kali.
Ya, seluruh rumahnya itu laksana ditabur dengan ratna mutu manikam,
kakinya tidak pernah menginjak ubin, yang diinjak selalu permadani yang
tebal dan indah. Tapi orang yang demikian itu, pengkhianat. Tapi orang
yang demikian itu menjadi kaya oleh karena korupsi. Orang yang demikian
itu di wajah-Nya Tuhan yang Maha Esa, adalah orang yang rendah. Di wajah
Tuhan Yang Maha Esa dia adalah orang yang rendah!
Sebaliknya, kataku dalam pidato itu, ambil seorang penyapu jalan.
Penyapu jalan di sana, di Jalan Thamrin atau jalan Sudirman atau
jalan-jalan lain, nyapu jalan, Saudara-saudara. Pada waktu kita
enak-enak tidur waktu malam, dia menyapu jalan, tangannya menjadi kotor
oleh karena dia menyapu segala ciri-ciri dan kotor-kotor dari jalan itu,
tetapi Saudara-saudara, dia mendapat nafkah dari kerjanya itu dengan
jalan jang halal dan baik. Dia dengan uang jang sedikit yang dia dapat
dari Kotapraja, Pak Gubernur Sumarno, Saudara-saudara, ya mendapat gaji
daripada Kotapraja uang jang sedikit, dia belikan beras, dan dia tanak
itu beras, dan dia makan itu nasi dengan istri dan anak-anaknya, bukan
di atas kursi yang mentul-mentul, bukan di atas permadaniy tebal, bukan
dari piring yang terbuat daripada emas, tidak dengan sendok dan garpu,
dia makan makanan yang amat sederhana sekali, dan dia mengucapkan syukur
alhamdulillah kehadirat Allah SWT: “Ya Allah ja Rabbi, terima kasih,
bahwa Engkau telah memberiku cukup makan bagiku, bagi istriku, bagi
anak-anakku. Ya Allah Ya Rabbi, aku terima kasih kepadaMu”. Orang yang
demikian ini, menyapu jalan, dia adalah orang mulia dihadapan Allah SWT.
Sumber: Kongres Persatuan Pamong Desa Indonesia, 12 Mei 1964.

No comments:
Post a Comment