News Update

Ketika Sukarno Menikahkan anaknya


Pada tahun 1969 Sukarno ditengah sakit ginjalnya yang parah menghadiri pernikahan anaknya Rahmawati Sukarnoputeri dengan Martomo Pariatman Marzuki atau dikenal dengan panggilan Tommy. Pernikahan itu jauh dari kemewahan, dalam kondisi yang amat prihatin. Pernikahan cukup berlangsung di rumah Ibu Fatmawati di Jalan Sriwijaya Kebayoran.
Saat Bung Hatta datang ke pernikahan itu dan memberi selamat kepada Rachma. Tiba-tiba terbuka pintu ada beberapa tentara. di antara kerumunan tentara ada Bung Karno yang memakai jas hitam agak kedodoran dengan muka bengkak-bengkak datang ke pernikahan anaknya itu. Ketika melihat kehadiran Bung Karno di sana, semua mata tertuju ke pintu. Beberapa orang meledak tangisnya termasuk Guntur. Hatta mengusap air mata dan tersedu-sedu melihat Sukarno. Fatmawati langsung berlari ke arah Sukarno dan menciumi suaminya itu. Sukarno berusaha tertawa tapi jelas ia sudah amat kepayahan. Sementara di luar rumah berita kedatangan Sukarno mulai diketahui banyak orang, dari tukang becak sampai tukang dagangan berlarian ke depan pagar rumah Sriwijaya mereka berteriak-teriak : “Hidup Bung Karno….Hidup Bung Karno” komandan tentara kaget dan memerintahkan agar Sukarno tidak terlalu lama di rumah Sriwijaya, ia harus segera pulang ke Wisma Yaso.
Inilah satu-satunya pernikahan Bung Karno untuk anaknya yang ia hadiri. Sebuah tragedi memilukan dari seorang yang mendirikan bangsa ini. Seorang yang sepanjang hidupnya bekerja untuk Indonesia Raya. Seorang yang membebaskan bangsanya.

Sosialisme Kita



-->Tujuan didirikannya Negara Indonesia itu adalah membentuk Negara Sosialis. Sosialisme ini bukan dalam pengertian dibawah satelit Sovjet Uni seperti yang dituduhkan oleh Intel Inggris, AS dan Agen-agen rahasia Van Mook di Australia dalam laporannya kepadanya komandan sekutu Sir Mountbatten di Kolombo awal Agustus 1945, tetapi sebuah kenyataan sejarah bahwa Sosialisme Indonesia itu sosialisme yang lahir otentik dari pemikir-pemikir sejarah Indonesia seperti : Sukarno, Tan Malaka, Hatta ataupun Sjahrir. Mereka itu adalah intelektual yang terlepas dalam sejarah komprador, baik komprador Amerika Serikat maupun Komprador Sovjet Uni.

Adalah Tan Malaka yang pertama kali dalam sejarah komunis Sovjet Uni melepaskan diri dari Imperialisme Sovjet Uni dan membentuk Partai Rahasia bersama Soebakat dan Tamim dengan nama PARI (Partai Rakjat Indonesia) dengan doktrin massa MURBA (berasal dari kata sanskrit yang artinya : Rakyat). Tan Malaka mengenalkan ide bersatunya dunia Islam dan Sosialisme yang di Moskow pada awal tahun 1920-an yang ditolak oleh banyak faksi di Sovjet Uni termasuk penolakan dari Stalin. Dan ketika penolakan itu terjadi, malamnya Tan Malaka mendapatkan pencerahan bahwa Stalinis hanya akan menghasilkan bentuk Imperialisme baru, sementara ia berhadapan langsung dengan bangsanya : Indonesia. Dari sanalah ia mengusung pemikiran peradaban ASLIA (Asia-Australia) sebagai peradaban yang berdiri sendiri, baik sejarah pembebasannya maupun kegiatan ekonominya.

Lalu Tan Malaka melihat arah sejarah perkembangan yang sama. Tan Malaka melihat kekuatan dunia Islam sebagai pengimbang Imperialisme Amerika, ternyata apa yang diramalkan Tan Malaka benar sekarang ini, Amerika sangat takut dengan kekuatan dunia Islam. Untuk itu Amerika terus mendekat pada Arab Saudi untuk tetap memelihara adat-adat kuno dan berusaha meninggalkan Islam yang moderat dan progresif, untuk itulah Arab Saudi dan Kuwait ditemani seraya mengebom Irak, mengancam Iran dan membuat lapar anak-anak di Jalur Gaza, Palestina. Apa yang dipikirkan Tan Malaka : Islam adalah darah dalam tubuh Indonesia benar adanya. Islam harus bersatu dengan ide-ide sosialisme nasional Indonesia Raya.

Di tahun 1927 di Bandung, Sukarno juga menulis tapi bukan tulisan tentang Sosialisme yang Sukarno tulis adalah Persatuan. Banyak orang mengira Persatuan dalam bahasa Sukarno adalah sekedar bersatunya suku-suku, bersatunya budaya-budaya dan bersatunya kelompok-kelompok, padahal Sukarno menciptakan persatuan itu lebih jauh lagi yaitu kerangka “JALAN BERPIKIR”. Bagi Sukarno, Persatuan itu adalah sebuah jalan membentuk antitesis-antitesis dari tesis-tesis keadaan yang terjadi sehingga melahirkan sintesis. Dari Persatuan ini kemudian akan terdefinisi jenis keadaan apa untuk Indonesia Raya.

Ide-ide Sosialisme Ekonomi yang paling gamblang adalah justru dari Hatta. Pokok pemikiran Hatta ini akan menjadi bintang dalam sejarah ekonomi masa depan manusia, Pemikiran Hatta jauh melampaui jamannya. Bahkan di jaman kita sekarang. Ide-ide Hatta tentang ekonomi adalah ekonomi yang tidak menjadi akumulator modal dan dikuasai individu atau korporasi raksasa, tapi ekonomi yang menjadi mesin pembentukan kesejahteraan bersama. Bagi Hatta tidak ada objek dalam ekonomi, semua yang manusia yang terlibat dalam ekonomi adalah subjek. Ekonomi Koperasi Hatta jangan dipahami sebagai Koperasi-Koperasi yang kita kenal sekarang, tapi lebih maju sebagai sebuah bentuk fragmen modal yang adil sebagai sebuah kegiatan bersama dengan tujuan-tujuan memakmurkan kehidupan anggota sesuai dengan peran masing-masing, kalau saja gagasan Hatta ini dibawa ke dalam lingkup makro maka kita akan mengenal ekonomi-ekonomi berjejaringan atau ekonomi cluster sehingga ekonomi dan hasil-hasilnya akan langsung mengenai kehidupan rakyat banyak.

Ketakutan banyak orang bahwa Sosialisme itu adalah Stalinis, ekonomi sosialisme adalah Korea Utara adalah sebuah kebodohan karena kurangnya wawasan dalam memahami titik-titik penting jalannya sejarah kita. Pendiri bangsa kita tidak menyukai pembelengguan, mereka adalah anak-anak kandung dari sejarah pembebasan. Jadi ketika sistem Sosialisme itu ditawarkan maka Sosialisme itu sederhana saja definisinya, bacalah UUD 1945 asli (yang tanpa amandemennya) disana dengan amat jelas sosialisme kita, terutama pasal 33.

Sosialisme kita adalah membangun Puskesmas-Puskesmas dengan fasilitas RS lengkap untuk rakyat dengan gratis, Sosialisme kita adalah Menggratiskan seluruh biaya-biaya pendidikan, menghapuskan pajak penerbitan dan penjualan buku yang tinggi, membangun jaringan internet dengan seluas-luasnya, membangun fungsi-fungsi sosial dan memaksa pejabat untuk hidup sederhana.

Sosialisme kita tidak akan menahan ekonomi modal biarlah pengusaha-penguasa berkembang seperti bunga-bunga yang mekar di musim semi, tapi Sosialisme kita juga tidak akan mengijinkan modal raksasa mendikte perekonomian rakyat, rakyat banyak harus jadi subjek utama dalam kegiatan ekonomi, kepemilikan tanah harus dibatasi lebih dari 10 hektar harus dimiliki sebuah serikat kerja atau negara, tak ada kepemilikan pribadi atau modal raksasa.

Sosialisme ini adalah penggalian sejarah dari pemikiran masa lampau pendiri bangsa, sehingga kita akan tersadarkan : Untuk apa Indonesia Raya harus berdiri................

Tan Malaka pernah berkata di tahun 1948 : Kita tidak akan menjadi antek Amerika Serikat, pun tidak akan menjadi budak Moskow. Kita adalah generasi pembebas dari sebuah bangsa merdeka, merdeka pikirannya dan merdeka jiwanya.

Sukarno, ACFTA dan Bangkrutnya Indonesia di Bawah SBY




Di tahun 1928 Sukarno senang sekali memperhatikan arah politik dunia, setiap bacaan ia arahkan pada arah politik dunia atau geopolitik. Bila di tahun-tahun sebelumnya Sukarno amat menyukai bacaan dengan landasan-landasan ilmu pikir murni, seperti Komunisme, Kapitalisme, Pan Islamisme ataupun sejarah, maka sejak awal 1928 Sukarno mulai memperhatikan apa yang terjadi dalam politik Internasional.

Pernah pada satu saat ia berjumpa dengan wartawan dan meminta mengulas terus apa yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, Sukarno merasa sudah ada perkembangan di Jerman karena pemerintahan Weimar sudah amat buruk, Hitler mulai menunjukkan pesonanya di depan Angkatan Darat Jerman, Inggris sedang mengalami kesulitan, sementara Amerika Serikat lagi menikmati masa jaya-jayanya ekonomi kapitalis liberal sebelum akhirnya hancur pada tahun 1929 akibat depresi besar yang terjadi berkat permainan spekulasi saham yang berlebihan, spekulasi inilah yang kemudian menjadikan Amerika mengirim bisnismen-bisnismennya ke Jerman untuk melobi pihak Eropa dan mengadu domba mereka sehingga terjadi Perang Besar, jika perang besar terjadi maka Amerika Serikat bisa menggerakkan perekonomiannya.

Sukarno senang sekali dengan peta politik Internasional ia kerap menandai jajahan Inggris dengan tinta biru, jajahan Belanda dengan tinta merah dan jajahan Perancis ia coret dengan garis bergelombang. Suatu hari Sukarno kedatangan temannya dari Singapura yang membawa dua buku berjudul Seapower in the Pacific dan “The Great Pacific War” karangan Hector Charles Bywater. Bywater adalah seorang jurnalis Amerika yang mengikuti perkembangan politik dunia, ia melakukan pengamatan apa yang terjadi dalam konstelasi-konstelasi kekuatan dunia itu, dalam renungannya Bywater menuliskan bahwa “kelak suatu hari akan terjadi perebutan kekuasaan di Lautan Pasifik antara Kekaisaran Jepang dengan Amerika Serikat dalam memperebutkan wilayah Asia Pasifik”. Dalam bukunya Bywater menuliskan bahwa serangan itu bermula dari pengeboman Pangkalan Militer Amerika Serikat di Filipina – (walaupun kemudian terjadi tahun 1942 bahwa yang dibombardir justru dari Pearl Harbour). Sukarno berpikir dalam-dalam soal yang diberikan Bywater ini, ia merenung dan membawa pulpennya lalu menuliskan catatannya diatas kertas : “Apabila Filipina diserbu Jepang, maka Jepang akan masuk lewat dua kemungkinan : Jawa atau langsung dari Pangkalan Militernya di Okinawa. Andai Jawa yang dikuasai maka otomatis ia akan menguasai Nusantara, penguasaan Jawa ini akan sedikit banyak mengusir Belanda. Lalu Sukarno teringat pada ramalan Jayabaya yang sudah amat dikenal dalam cerita-cerita rakyat (folklore) orang Jawa : “Kelak akan ada bangsa cebol berkulit kuning yang akan menguasai Jawa seumur jagung” seumur jagung adalah kalimat idiom dari kata waktu “singkat” . Akan ada penguasaan waktu yang amat singkat. Di titik inilah Sukarno menandai pertaruhan politiknya. “Pertarungan yang amat singkat akan menjadikan pertaruhan politik Indonesia ke depan, pertaruhan jangka panjang”.

Sejak menggeluti pemikiran Bywater, Sukarno mengarahkan seluruh daya politiknya pada pertarungan Internasional untuk memanfaatkan kesempatan bagi Indonesia. Ia paham bila pertarungan itu dibawa ke dalam, maka Indonesia belum kuat, harus mempermainkan politik Internasional untuk kemerdekaan Indonesia dan keuntungan-keuntungan strategis lainnya.

Pada tahun 1929, Sukarno sekali lagi menemukan Amerika Serikat menemui depresi ekonomi besar. Sukarno melakukan hitung-hitungan politik, bila Amerika Serikat mengalami depresi besar maka yang terjadi adalah Amerika membutuhkan modal. Sukarno berpikir bahwa satu-satunya cara mendapatkan modal Amerika harus menciptakan perang baru – (teori Sukarno ini sampai sekarang masih digunakan Amerika dalam mengelola konflik politik Internasional yang pada ujung-ujungnya adalah penguasaan sumber-sumber minyak bumi dan penguasaan alam). Sukarno juga melihat sumber daya alam Indonesia sebagai sumber logistik terbesar dalam Perang Asia Pasifik. Kebangkitan fasisme di penjuru dunia menarik perhatian Sukarno, kebangkitan fasisme adalah tahap akhir dari kebangkrutan Kapitalis ini yang Sukarno baca dari analisa-analisa ekonom Komunis tentang Kapitalisme. Sukarno sendiri akhirnya lebih setuju dengan tulisan yang menyatakan “Fasisme akan mati dengan sendirinya karena tidak sesuai dengan kodrat pertumbuhan masyarakat” Kematian fasisme ini menjadikan Sukarno akan mempermainkan Jepang bila kelak Jepang datang. Sukarno sendiri dengan daya ciptanya sudah memperkirakan kemerdekaan Indonesia akan terjadi pada Agustus 1945. Ini juga kelak menjadi naskah sandiwara tonil yang ia lakukan di Flores dengan judul sama : Agustus 1945.

Penemuan arsitektur geopolitik Sukarno inilah yang kemudian menjadi landasan kerja politik Sukarno, tinggal dia bagaimana menyadarkan rakyat tentang arah masa depan. Lalu setiap waktu Sukarno berpidato soal Perang Pasifik ini. Laporan-laporan Intel Belanda menyebutkan Pidato Sukarno tentang Perang Pasifik ini akan amat diperhatikan oleh banyak orang, tapi yang lebih menakutkan apabila kemudian Amerika Serikat atau Jepang memperhatikan apa omongan Sukarno, maka ini akan memancing kekuatan luar negeri untuk hajar Belanda.

Pada awalnya Sukarno dianggap anak manis dalam Pergerakan Nasional di Indonesia, tapi dengan gagasannya soal Perang Asia Pasifik maka Sukarno dianggap memancing keributan yang lebih berbahaya lagi yaitu “Masuknya kekuatan Internasional dalam menggugat jajahan Belanda” dalam hal ini Jepang. Pada tanggal 28 Desember 1929, Sukarno diundang oleh Raden Mas Sujudi dari Yogyakarta untuk berbicara di depan rapat politik kaum kebangsaan di Solo. Sukarno datang dan berpidato di Solo dengan penuh semangat dan gayanya yang dramatik : Imperialis, perhatikanlah! Dalam waktu tidak lama lagi, Perang Pasifik menggeledek menyambar-nyambar membelah angkasa, ”Apabila, Samudera Pasifik merah oleh darah, dan bumi di sekelilingnya menggelegar oleh ledakan bom dan dinamit. Di saat itulah rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka”. Disini Sukarno terus menerus menulis tentang kemerdekaan yang akan terjadi, artinya Sukarno memberikan visi agar rakyat Indonesia bersiap. Dan tulisan Sukarno memang dibaca hampir seluruh rakyat Indonesia yang terdidik lewat koran-koran, -hal yang menunjukkan betapa tulisan Sukarno bisa menjadikan alam bawah sadarnya adalah ucapan Jenderal Nasution ketika ditawari oleh agen asing untuk memberontak melawan Sukarno tapi Nasution menolak dan menjawab dengan tegas “Sejak saya kecil, sejak saya tak tau apa artinya Nasionalisme, Sukarno-lah yang mengajari saya lewat tulisan-tulisannya di koran-koran tentang Nasionalisme, dialah yang menyadari saya tentang sebuah KeIndonesiaan di masa saya muda” begitu juga dengan catatan Deliar Noer semasa ia kecil, semasa ia kanak-kanak di usia 8 tahun Deliar Noer mencatatkan di bukunya sebagai tulisan anak kecil ia menulis : “Kelak aku akan jadi Sukarno, akan jadi Hatta” ini berarti tulisan Sukarno memang sudah tersebar amat luas di seluruh wilayah Hindia Belanda dan mempengaruhi banyak orang. Tulisan ini kemudian menjadi tanggung jawab bagi Sukarno mengarahkan ke arah mana rakyat harus bertindak.

Sukarno sudah melihat Perang Asia Pasifik sebagai alat paling penting dalam proses kemerdekaan Indonesia. Disini Sukarno sudah melakukan sebuah Pemetaan yang jelas dan tahapan-tahapan pasti kepada rakyat Indonesia. Gara-gara pidato di atas Sukarno kemudian ditangkap oleh Polisi Belanda, Rumah Sujudi digerebek dan seluruh rombongan Sukarno digelandang ke halaman lalu disuruh ganti pakaian di halaman dan kemudian diangkut truk ke Stasiun Tugu Yogyakarta, dimasukkan ke Gerbong Khusus tanpa jendela dibawa ke Bandung untuk diadili. Di depan Landraad (Pengadilan) Sukarno berkata terus menerus tentang sumber daya alam yang dikeruk Belanda. Disana Sukarno digetok hukuman 4 tahun penjara hanya karena membela nasib bangsanya.

Apa yang dilakukan Sukarno demi bangsanya sangat berbeda sekali dengan apa yang dilakukan pemerintahan SBY sekarang. Apakah anda masih ingat sewaktu SBY masih jadi Menkopolkam di tahun 2003 dan bertemu dengan seorang penggede Amerika Serikat, SBY mengatakan tanpa tau malu : “I love the United States, with all its faults. I consider it my second country.” (Saya mencintai Amerika Serikat, dengan segala kesalahan-kesalahannya, Saya akui Amerika Serikat ini adalah Negara Kedua bagi Saya). Ucapan model apa ini!! ....bagaimanapun ucapan ini dilakukan oleh seorang Pemimpin bukan seorang warga biasa dalam situasi emosional. Seorang Pemimpin bangsa hanya harus memiliki satu loyalitas, ya kepada bangsanya sendiri. Lalu apa yang terjadi pada ACFTA 2010. ACFTA adalah perjanjian perdagangan Bebas antara ASEAN-CINA, disini Indonesia masuk ke dalam wilayah perjanjian 2010. Tapi Indonesia sama sekali tidak mempersiapkan infrastruktur untuk menghadapi Perdagangan Bebas dengan Cina, coba anda perhatikan ada apa dibalik gagapnya SBY terhadap persoalan ACFTA ini, SBY sama sekali tidak melakukan gebrakan kepada rakyatnya “Ayo bangun infrastruktur, ayo kita mulai siap bertanding” tapi ia malah asik dengan dirinya sendiri, dana anggaran digarong dimana-mana sehingga rakyat tidak kuat bertanding dalam iklim Perdagangan Bebas.

Sebenarnya hal ini adalah permainan, dengan tidak siapnya Indonesia berdagang dengan Cina, maka rakyat akan marah-marah dengan Cina, lalu kenapa? Itulah yang ditakuti Amerika Serikat. Cina akan menjadi kekuatan paling penting di Asia Tenggara, Ekonomi Cina secara bertahap akan membangkrutkan dominasi Ekonomi Amerika Serikat yang sudah direbutnya dengan membunuhi 3 juta nyawa orang Indonesia lewat rekayasa Gestapu 65, Menggulingkan Sukarno, Membangun Pemerintahan buas Militer Orde Baru dan memenjarakan ribuan orang untuk kesalahan yang tak dimengertinya. Inilah landasan ekonomi Amerika Serikat dibangun di Indonesia. Sementara Cina membangun ekonominya sendiri masuk ke Pasar tanpa membunuhi satu-pun orang Indonesia, tapi Amerika marah karena pasarnya direbut, lalu datanglah Obama ke KTT Asean di Bali. Lewat perantaraan SBY pula Amerika Serikat melakukan kontrak dagang dengan ASEAN. Amerika Serikat menempatkan Pangkalan Militernya di Darwin untuk menggertak Cina. Disini rakyat Indonesia tetap harus jadi milik Amerika Serikat. Apa yang dilakukan SBY bisa diindikasikan begitu Pro-nya SBY kepada Amerika Serikat sehingga ia seakan-akan menghambat jalur pertarungan antara ekonomi rakyat Indonesia untuk bersiap menghadapi Cina.

Rusaknya kerangka pemikiran SBY adalah selama 7 tahun pemerintahannya ia tidak menjalankan gebrakan ekonomi yang mengarahkan pada perubahan politik dagang Internasional. Tak ada satupun analisa-analisa yang keluar tentang ekonomi dagang Internasional dimana Indonesia harus menempatkan dirinya, tak ada satupun kebijakan yang menyeluruh untuk membangkitkan Indonesia dalam pertarungan dagang ke depan. Obsesinya sama sekali hampa, dan ia sibuk dengan dirinya sendiri.

Sesungguhnya Indonesia sedang menghadapi bahaya masa depan, yaitu : Bahaya Imperialisme Dagang dan Modal. Jaringan-jaringan perdagangan kita akan ditutup oleh kekuatan modal Internasional, ini akan berdampak pada bangkrutnya ekonomi rakyat, gerakan muda harus memperhatikan dengan amat serius ekonomi perdagangan Internasional agar jangan nanti kita hanya jadi perluasan Pasar Cina atau tetap menjadi budak Amerika Serikat.

Bila ekonomi rakyat bangkrut, maka tak ada lagi yang ada dalam diri kita kecuali badan. Dan bila badan menjadi satu-satunya hak milik yang diperdagangkan maka selamanyalah kita tetap akan jadi kuli, jadi bangsa kuli dan kuli diantara bangsa-bangsa. Kita harus membangun kembali kerangka ekonomi dan strategi menyeluruh sekaligus merumuskan keadaan-keadaan seperti yang dilakukan Sukarno dalam membentuk peta ke arah Indonesia merdeka. Inilah yang harus kita lakukan untuk menerobos dan membongkar kembali apa yang sesungguhnya terjadi dalam keIndonesiaan kita.

Anton, akhir November 2011.

Kisah Jembatan Bung Karno



Kisah Jembatan Bung Karno

Pada tahun 1923 seorang Residen Palembang Le Cocq de Ville menyusuri sungai Musi. Ia melihat sekeliling sungai dan banyaknya perahu yang lalu lalang, kemudian kapalnya merapat ke sebuah rumah kepala lingkungan di tepi Sungai Musi. Di sana Le Ville bertanya “Kenapa seberang Ulu dan Seberang Ilir ini tidak disatukan jembatan?” tanya De Ville sambil tangannya menunjuk arah dua tempat itu. Kepala lingkungan menjawab dengan sopan “Dulu waktu pembentukan Gemente (Pemerintahan Kota) Palembang sekitar tahun 1906, ide ini pernah ada...tapi kabarnya tidak jadi karena Batavia sedang sibuk urusan di tempat lain, saya waktu itu juga hadir dalam pertemuan di Gemente”.

De Ville berpikir keras ide ini hebat juga, ia ingin meninggalkan kenangan sebagai pembangun Jembatan besar di Sungai Musi. Pada tahun 1924, de Ville berangkat ke Batavia, sesampainya di Batavia ia diajak ke tempat peristirahatan Gubernur Jenderal di Buitenzorg Bogor. Sesampainya di Bogor, Gubernur Jenderal bertanya pada de Ville “Bagaimana pembangunan kota Palembang?”

De Ville menjawab “saya ingin Batavia membangun Jembatan di Sungai Musi”. Gubernur Jenderal mengangguk-angguk “Sebenarnya dulu sudah mau dibangun, tapi Batavia sedang sibuk bangun kota Bandung, konsentrasi diarahkan kesana semua, terbukti kontes kota-kota kolonial di Afrika Selatan Bandung jadi kota koloni terbaik sedunia”.....

De Ville mengeluarkan rencana jembatan yang dibuat oleh arsitek temannya. Gubernur Jenderal menyimak gambar tersebut kemudian memerintahkan ajudannya untuk menyimpan gambar. Pada tahun 1928 ada kabar bahwa Jembatan akan dibangun, tapi kemudian rencana itu dibatalkan karena sedang ada resesi dunia di tahun 1929, Batavia mengambil kebijakan untuk proyek raksasa semuanya dihentikan dulu.

Kecewa dengan batalnya rencana ini, de Ville memesankan kepada beberapa pemimpin di Palembang untuk tetap berjuang dalam membangun Jembatan Sungai Musi. Idee de Ville ini justru terlaksana ketika Hindia Belanda bangkrut dan Palembang dikuasai oleh orang-orang Republik. Pada tahun 1956 dibentuklah Parlemen Daerah Peralihan Awal untuk Kota Palembang. Beberapa pemimpin Palembang hadir dalam rapat pleno Parlemen Peralihan itu, seperti Penguasa Perang Daerah Kolonel Harun Sohar, Gubernur Palembang H.A Bastari dan walikota Palembang M. Ali Amin. Dalam rapat itu usulan besarnya adalah membangun Jembatan di Sungai Musi, disepakati nama Jembatan itu adalah Jembatan Musi. Setelah rapat pleno usai, beberapa pemimpin berkumpul di ruang pertemuan gubernuran untuk membahas pembangunan Jembatan Musi yang sudah disetujui Parlemen Daerah (DPRD), mereka sepakat untuk mengumpulkan modal awal dulu. Pada tahun 1957, panitia kemudian berhasil mengumpulkan modal awal Rp. 30.000,-. Di tahun itu juga kemudian beberapa orang mengusulkan agar melapor ke Djakarta untuk meminta anggaran pembangunan Jembatan Musi.

Beberapa pemimpin Palembang seperti Gubernur Bastari, Penguasa Perang Daerah Kolonel Harun Sohar, Walikota Ali Amin dan seorang pengusaha bernama Indra Caya, berusaha menemui Bung Karno. Saat itu Bung Karno baru saja pulang dari lawatannya ke beberapa negara.

Bung Karno dilapori ajudannya Kolonel Sugandhi tentang adanya beberapa orang yang menyebut dirinya sebagai Tim Pembangunan Jembatan Musi akan menemui dirinya. Sukarno membaca surat permintaan bertemu, dengan singkat Bung Karno berkata pada Gandhi “Segera pertemukan pada saya”.

Tim itu akhirnya diundang sore hari untuk menikmati teh panas dan beberapa panganan gorengan. Mereka bicara di beranda Istana Negara sambil melihat-lihat taman. Sukarno bercerita soal dirinya yang Insinyur “Dulu saya ini hanya bangun jembatan-jembatan kecil, bikin jembatan se-iprit, kecil....saya tidak suka sebenarnya, saya suka dengan Jembatan yang mampu menggugah daya sadar, bukan saja Jembatan yang mampu membangunkan kekuatan ekonomi rakyat, tapi juga jembatan yang mampu menjadikan lambang dari kota itu, Jembatan itu harus aman, harus memberikan rasa aman kepada yang menggunakannya, jangan sampai dibangun lantas roboh, dibangun lantas roboh...dibangun lantas roboh....itu pernah terjadi di Belanda, makanya orang Belanda sangat hati-hati jikalau sedang membangun Jembatan, hitungannya teliti”.

Lalu Gubernur menyerahkan rencana pembangunan Jembatan kepada Bung Karno. Melihat rancangannya yang sedemikian sederhana Bung Karno menolak. “Saya akan buat yang lebih bagus lagi untuk Rakyat Palembang” lalu beberapa bertanya soal pendanaan. “Bagaimana dengan pendanaannya Pak...?” tanya mereka.

“Kalian tak usah pusing, urusan itu aku yang urus...yang penting bagaimana rakyat Palembang mampu mendapatkan kebanggaannya sekaligus meningkatkan kesejahteraannya lewat pembangunan Jembatan ini....”

Sukarno sudah memperhitungkan dengan baik, pembangunan Jembatan ini tidak akan memberatkan anggaran negara, ia tahu bahwa Perdana Menteri Djuanda sedang mempersiapkan tanda tangan pampasan perang Djepang. Pada tahun 1955 sebenarnya Pampasan Jepang itu akan cair, tapi Indonesia bersikeras Djepang harus membayar sekitar 17,7 Milyar Dollar karena Indonesia kehilangan 4 juta nyawa selama Indonesia di jajah Djepang. Sebenarnya dana Pampasan Perang Djepang ini adalah desakan sekutu pada konferensi di San Fransisco 1951 agar Djepang membayar ganti rugi kepada negara-negara eks jajahan. Namun Djepang selalu berkelit dan malah membuat rencana besar pampasan ini akan diubah bentuknya jadi pembukaan pasar domestik. Akhirnya Djepang hanya mau mengeluarkan 200 juta dollar untuk biaya pampasan Jepang, penghapusan hutang dan bantuan jangka panjang 400 juta dollar.

Tahun 1958 Sukarno sudah mendapatkan kabar dari Perdana Menteri Djuandan bahwa sekitar 20 juta dollar tahap pertama pampasan Jepang akan segera disetujui. Berdasarkan dari kabar inilah Sukarno menyusun salah satu rencananya membangun Jembatang Sungai Musi. Pada tahun 1960, dana benar-benar cair dan dimulailah Jembatan Musi.

Sukarno meminta kepada arsitek Jembatan Musi ini agar membangun boulevard di kedua sisi jembatan. Jembatan Musi dibangun dengan arsitek Jepang yang memang amat paham bagaimana membangun Jembatan di wilayah dengan resiko gempa tinggi. Sukarno meminta agar Jembatan itu bisa bertahan 100 tahun bahkan lebih, ahli-ahli Jepang itu menyanggupinya.

Pada tahun 1965, Jembatan itu selesai dibangun dan rakyat Palembang memberikan nama Jembatan itu “Jembatan Bung Karno”. Sebagai rasa terima kasih mereka kepada Presidennya yang telah berjuang membangun Jembatan di tengah kota Palembang dan menjadi kebanggaan rakyat Palembang. Tapi konspirasi Gestapu 65 membuat Sukarno terpuruk, saat ramai-ramainya demonstrasi 1966, Jembatan Bung Karno diganti namanya menjadi “Jembatan Ampera” Ampera ini singkatan “Amanat Penderitaan Rakyat”.

Motivasi Ala Sukarno



Apabila Mario Teguh hanya menciptakan kata-kata motivasinya sebagai candu bagi pendengarnya, maka Bung Karno menciptakan kata-kata menjadi sebuah wujud, sebuah gerak, menjadi sebuah alur drama perjalanan bangsa ini, dialah orang yang mampu menggerakkan jutaan orang untuk berbuat untuk mimpi yang sama, membeli cita-cita yang sama -Sebuah kebesaran dan kehormatan Indonesia Raya.

Inilah salah satu kalimat motivasi Sukarno : "Bangsa yang tidak percaya pada kemampuan dirinya sebagai bangsa, tidak berhak menjadi bangsa yang merdeka." Dan katanya lagi, "Jangan mengeluh, karena mengeluh pertanda kelemahan jiwa. Kita harus sanggup digembleng oleh keadaan. Hampir hancur lebur bangun kembali, hampir hancur lebur bangun kembali."

Belajar dari Pak Salim



Belajar dari Haji Agus Salim.........

Sekarang para pejabat selalu bersolek, pake baju necis dan berlagak alim, umroh dan naik haji berkali-kali tapi tak paham menyejahterakan rakyat.

Para pemimpin agama berpakaian agama bak orang suci dan menggunakan simbol-simbol keagamaan seraya teriak-teriak mengumandangkan kebencian.

Tapi lihatlah Haji Agus Salim, pakaiannya sederhana, bahkan robek, rumahnya di gang sempit yang becek, hidupnya tidak bermewah-mewah, puasanya rajin, referensi bukunya ribuan, intelektualnya luar biasa, ia bisa 30 bahasa asing, kecerdasannya banyak dikagumi, KeIslamannya amat zuhud.

Bisakah keIslaman kita seperti Hadji Agus Salim, yang berguna untuk bangsa dan agama kita, tampa banyak tingkah, tidak mengomersialisasikan agama dan menyebarkan kebaikan.

Agama bukan lapangan untuk mencari duit, bukan bisnis, bukan industri, ia ajaran disiplin hidup. Pada agama apapun dan keyakinan apapun. Tuhan itu akan menemui manusia yang mampu melatih disiplin kehidupan dengan berbuat baik dan berbuat baik....sekali lagi berbuat baik.

Dibalik Sejarah Partai dan Kota

 
Kalau dipelajari ternyata setiap kota-kota di Indonesia ini memiliki sejarah kepartaian yang amat erat kaitannya dengan jejak sejarah Partai dan kebanyakan dari kejadian-kejadian besar yang amat mempengaruhi Partai di masa lalu.

Cirebon :

Tak disangka ternyata Cirebon ini adalah basis PSI (Partai Sosialis Indonesia) hampir seluruh kejadian penting PSI selalu bermula di Cirebon, mulai dari Prok...lamasi Kemerdekaan ala dokter Sudarsono yang kelak jadi tokoh penting PSI, agenda pembentukan PSI setelah bubar kongsi dengan PS-Sjahrir Amir, ataupun ketika Sukarno dan Angkatan Darat melakukan bredel terhadap PSI. Gemsos, gerakan muda sosialis PSI juga banyak lahir dari kota ini. Tokoh terpenting PSI yang masih hidup dan sekarang jadi sesepuh PKS, Suripto lahir di kota ini.

Semarang-Solo :

Kota Semarang dan Solo selalu selamanya akan jadi basis PKI. Pemogokan-pemogokan yang dilakukan gerakan komunis di masa silam adalah bagian tak terlepaskan dari sejarah kota Semarang. Sementara hampir semua tokoh-tokoh penting PKI yang lari dikejar tentara entah mengapa selalu sembunyi di kota Solo.

Yogyakarta :

Yogyakarta ini basis terpenting PNI, sulit memisahkan alam bawah sadar orang Yogya dengan Bung Karno, inilah kenapa di tahun 1970-an awal ada gejolak batin bagi orang Yogya ketika Sultan HB IX memilih Golkar sebagai basis mesin politiknya, saat itu penduduk Yogya terpecah, setia pada Sultan atau tetap mengenang Bung Karno sebagai bagian terindah dalam hidup mereka.

Jakarta :

Jakarta adalah basis penting Partai Murba, partai bentukan Tan Malaka. Walaupun ketika Murba berdiri, Jakarta bukanlah bagian dari gerakan Murba seperti di Yogya dan Solo, tapi setelah kematian Tan Malaka, Jakarta adalah pusat dari segala gerakan orang-orang Murba. Hampir semua anak didik Tan Malaka lahir dari sebuah toko buku di Pasar Senen bekas dimana Adam Malik sering nongkrong tiap pagi sambil baca komik dan meracau. Di kota inilah para pejuang-pejuang akhir Murba meneteskan air matanya ketika mereka menyaksikan Murba digabung ke PDI lewat fusi paksa 1973.

Padang :

Sulit melepaskan jiwa kota Padang dengan Masjumi, orang Minangkabau ini orang paling eksentrik se Indonesia, mereka bisa melahirkan Islam yang amat fanatik tapi juga gerakan Komunis lahir dari otak orang-orang Minang. Di antara suku-suku se Indonesia, orang Minanglah yang paling banyak memproduksi gagasan-gagasan politik dan salah satunya adalah Masjumi. Masjumi menjadi gerakan politik Islam urban dan sebagai lambang kekuatan Islam di luar Jawa menandingi gerakan Islam yang lahir di Jawa seperti Muhammadiyah dan NU.

Sebuah kota bukan hanya barisan tembok-tembok, tapi ia juga menyimpan banyak kejadian tentang masa lalu........