News Update

Apa Itu Marhaen?




Bagi sebagian besar orang dan bahkan intelektual sejarah mengartikan Marhaen Bung Karno sebagai akronim dari : Marx, Hegel dan Engels. Padahal menurut Sukarno sendiri Marhaen adalah nama orang, ini sama saja dengan Doel, Ahmad atau Bodin yang jamak dalam masyarakat Indonesia.

Lalu apa itu Marhaen? sebuah kelas sosial yang kerap diucapkan Sukarno sebagai pendukung terbesar garis politiknya. Sukarno berkata "Marhaen adalah orang yang punya modal tapi teramat kecilnya, ia punya gerobak sendiri, ia punya pacul sendiri dan ia punya tanah sendiri, tapi amat kecil, amat terbatas ia tidak mungkin disejahterakan oleh sistem" itulah Marhaen dalam pengertian Sukarno. Dan oleh Sukarno pula "Di Indonesia tidak ada kelas buruh yang murni, tidak ada kelas borjuis yang murni, mayoritas di Indonesia adalah Marhaen dan masyarakat Indonesia tidak mengenal pertentangan kelas seperti yang dipikirkan oleh para pengikut Marx". tentunya Sukarno agak sedikit mendangkalkan makna penentangan kelas Marxian, tapi sebagai sebuah struktur penjelasan ekonomi modal maka pemikiran Sukarno sangat luar biasa.

Sukarno menghendaki ekonomi modal yang kuat, negara bisa menjalankan revolusi sosialnya tanpa harus merampas hak-hak modal rakyat. Negara menjadi agen kesejahteraan umum, para dokter bekerja untuk kebaktian pada kesehatan masyarakat bukan uang, para guru bekerja sebagai bagian kebaktian bekerja untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bukan uang, dan para intelektual kita merumuskan masalah-masalah kehidupan untuk pencerahan bukan uang itulah makna kehidupan bagi Sukarno, dan Marhaen sebagai penopang ekonomi dari lautan masyarakat ini menjadi peran utama dalam distribusi kesejahteraan masyarakat, mereka mudah mendapat modal dari Bank Negara, anak-anak mereka sekolah gratis, kesehatan gratis dan negara menjadi sponsor utama pencerdasan masyarakat, negara menghindari dirinya menjadi agen kekerasan sekaligus menahan serbuan taktik penjajahan modal asing, atau menggelembungnya raksasa pengusaha nasional yang ingin mengakuisisi negara.

Inilah arti penting menghidupkan kembali apinya Sukarnoisme.


Anton Djakarta 2011.

Mengukur Imajinasi Sukarno



Mempelajari Sukarno adalah sebuah imajinasi, sebuah degup yang mungkin tidak akan pernah berhenti. Sukarno dibesarkan oleh ilmu pengetahuan cara barat, tapi ia selalu berpikir dan bertindak dengan cara-cara Jawa. Orang Jawa tidak pernah menggunakan rasio-rasio yang terukur untuk membangun tindakan, mereka lebih mengedepankan insting-insting yang dipercayainya, mereka membangun tindakan dari rangkaian insting itu. Mustahil mempelajari Sukarno dan apa yang dilakukannya tanpa kita melibatkan banyak unsur kultural, sejarah kekuasaan Jawa, psikologis kekuasaan Jawa, cara orang Jawa melihat masa depan, cara orang Jawa mendalami siklus jaman dan yang terpenting dialektika jaman yang bekerja.

Puncak kerja Sukarno adalah tahun 1960-an, yang oleh sejarawan Orde Baru dilabur sebagai tahun kebangkrutan Indonesia. Tapi sadarkah kita? di tahun-tahun itu Indonesia berada pada puncak sejarahnya. Puncak keagungannya? Militer kita terbesar nomor lima di dunia, pengaruh diplomasi kita meliputi hampir separuh dunia. Di luar Amerika Serikat dan Sovjet Uni, Indonesia-lah yang paling berperan dalam dunia politik internasional.

Kemiskinan di masa Sukarno yang diberitakan oleh media-media barat ini tak lebih antrean minyak tanah pada masa SBY, bahkan PKI yang kerap memprotes tindakan pemerintah oleh sejarawan Orde Baru dianggap sebagai penyebab lesunya ekonomi. Analisa ini menjadi lucu karena PKI berada diluar struktur pemerintahan. Ekonomi Indonesia tidak morat-marit sama sekali di Jaman Bung Karno, bahkan bila kita melihat secara EVA (Economics Value Added) rangkaian kinerja Sukarno tahun 1960-1965 memiliki nilai tinggi di masa depan, yaitu apa? -adanya penguasaan secara penuh modal nasional-. Sukarno dengan tahapan-tahapannya mengarahkan negara untuk menguasai modal nasional secara utuh. Dengan penguasaan modal nasional maka ia bermimpi : Biaya kesehatan dibiayai gratis, sekolah anak-anak bangsa gratis, dia bisa membiayai anggaran militer yang kuat dan seluruh Indonesia dibangun pelabuhan-pelabuhan dagang yang kuat serta ramai dan menjadi jalur penting perdagangan dunia. Tapi ekonom cupet, sejarawah tolol banyak melihat sesuatu hanya satu scoupe, satu dimensi, gagal melihat sesuatu dengan gairah keseluruhan.

Di jaman Sukarno ketimpangan kekayaan nyaris tak ada. Anak Menteri dan anak rakyat biasa bersekolah di tempat yang sama, naik sepeda dengan merek yang sama, korupsi kalaupun ada jelas penyelesaiannya. Tidak ada kelompok atau orang yang berani korupsi dalam skala raksasa, karena kalau itu terjadi maka beresiko dihadapkan ke regu tembak.

Tapi masa Sukarno mungkin sudah lama berlalu, kita melewati sedemikian lama pengelabuan sejarah Orde Baru, dan sekelompok orang sekarang yang tak percaya bagaimana dunia sosialisme bekerja. Kita dipaksa untuk percaya bahwa Mall-Mall, Ruang Perbelanjaan Kapitalis, Rumah Sakit Mahal, Universitas Mahal adalah masa depan Indonesia, kita dipaksa percaya untuk itu.

Mimpi-mimpi Sukarno menjadi hantu yang menakutkan bagi mereka.............


Anton, 2011.

Mengapa Yogyakarta Disebut Daerah Istimewa?


Gambar atas : Tampak Sri Sultan dan Hamengkubuwono IX
Menyambut delegasi asing untuk keperluan perundingan di Yogyakarta


Mengapa Yogyakarta Disebut Daerah Istimewa?

Pernyataan SBY yang kelewat dungu dan tidak memahami sejarah serta perasaan orang Yogya membuat banyak pihak meradang, begitu juga dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Kenapa SBY bisa tidak mengerti sejarah Yogyakarta dimana Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada waktu itu mempertaruhkan kedudukan politiknya, tidak mempedulikan tawaran Ratu Juliana yang akan memberikan kedudukan Sri Sultan HB X sebagai Pemimpin Koalisi Indonesia-Belanda dan Menggadaikan kekayaannya untuk berlangsungnya Pemerintahan Republik Indonesia. Generasi muda ada baiknya mengetahui asal usul kenapa Yogyakarta diberikan status wilayah Istimewa sebagai konsesi politik dan penghargaan Pemerintahan Republik Indonesia terhadap peranan rakyat Yogya yang gantung leher mempertaruhkan eksistensi Republik Indonesia.

Tak lama setelah Proklamasi 1945, pemimpin pusat macam Sukarno, Hatta, Subardjo dan Amir Sjarifudin menyatakan bahwa "Eksistensi pengakuan pernyataan Pegangsaan harus didukung kekuatan riil di daerah, Belanda atau pihak asing hanya akan mengakui kemerdekaan itu bila kekuatan-kekuatan daerah mendukung" memang pada hari-hari pertama Jawara Banten sudah mendukung pernyataan kemerdekaan RI dengan mengirimkan pendekar-pendekarnya mengamankan Jakarta. Kekuasaan Jepang di seluruh wilayah Banten direbut oleh para pendekar. Tapi kekuasaan pendekar itu bukan jenis kekuasaan formal yang teratur rapi. Begitu juga dengan dukungan jago-jago silat Djakarta dan Bekasi yang kemudian membentuk laskar bersendjata untuk langsung tarung di jalan-jalan Cikini sampai Kerawang. Kekuasaan Informal langsung mendukung Sukarno. Tapi bagaimana dengan kekuasaan formal yang telah didukung administrasi rapi dan memiliki massa pengikut jutaan. Kekuasaan formal itu terletak di Solo dan Yogyakarta.

Solo dan Yogyakarta disebut dengan daerah Voorstenlanden, atau daerah yang diberi kekuasaan khusus oleh Hindia Belanda sebagai buntut perjanjian Giyanti 1755. Setiap terjadi suksesi Belanda sebagai pemerintah pusat bernegosiasi terus menerus dengan raja baru untuk menambah konsesi wilayah dan peraturan-peraturan baru. Lama kelamaan daerah Voorstenlanden hanya sebatas wilayah Yogyakarta dan Surakarta seluruh wilayah Mataram asli semuanya masuk ke dalam pemerintahan Hindia Belanda. Namun wilayah boleh direbut tapi pada hakikatnya rakyat Jawa Tengah dan Sebagian Jawa Timur menganggap raja mereka berada di Solo dan Yogya. Seperti orang Madiun yang lebih berorientasi pada Mangkunegaran atau Blitar yang menganggap Yogya lebih representatif ketimbang Solo. Namun terlepas dari itu semua raja-raja Yogya dan Solo dianggap bagian dari trah resmi raja-raja Jawa.

Pengumuman kemerdekaan Indonesia dilakukan pada sebuah rumah di Pegangsaan ini artinya : Kemerdekaan itu lahir bukan dalam situasi formal. Pemerintahan pendudukan Jepang tidak lagi pegang kuasa di Indonesia setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom atom dan Hirohito dipaksa menandatangani surat pernyataan kalah tanpa syarat dihadapan Jenderal MacArthur dan sebarisan perwira AS bercelana pendek. -Pemerintahan Jepang dipaksa oleh pihak sekutu sebagai pemenang perang untuk mengamankan seluruh aset-aset di wilayah Asia yang diduduki Jepang termasuk Indonesia. Namun perwira-perwira samurai itu juga sudah pernah berjanji pada sebarisan kaum Nasionalis untuk memerdekakan Indonesia, tapi tujuan kemerdekaan itu adalah membentuk : Persekutuan bersama Asia Timur Raya. Kemerdekaan itu ditunda beberapa kali sehingga sempat membuat berang Sukarno. Namun pada malam 16 Agustus 1945 Laksamana Maeda dengan garansi dirinya pribadi membantu kemerdekaan Indonesia sebagai bentuk pemenuhan janji. Hanya saja statement kemerdekaan dikesankan bukan dari Jepang.

Dan Sukarno butuh formalitas. Ia butuh rakyat Jawa, hatinya orang Jawa untuk berdiri dibelakang dia setelah pengumuman kemerdekaan. Sementara Tan Malaka sendiri yang belakangan muncul meragukan kemampuan Sukarno menggalang dukungan rakyat secara utuh, Tan Malaka bilang pada Subardjo "Suruh Sukarno cepat cari dukungan di tingkat daerah, dia jangan bermain di wilayah elite melulu". Apabila tidak mendapat dukungan formal minimal di Jawa maka sekutu dengan cepat bisa melikuidir Indonesia.

Barulah pada pagi hari saat Sukarno sedang rapat dengan beberapa menteri datang sebuah surat kawat (telegram) dari Yogyakarta. Sukarno membuka telegram itu dan langsung melonjak dari tempat duduknya. Mukanya yang sedari awal kusut kurang tidur sontak gembira. Di depan menterinya Sukarno berkata "Surat ini adalah langkah awal eksistensi secara de facto bangsa Indonesia, sebuah functie yang bisa mendobrak functie-functie selanjutnya. De Jure kita sudah dapatkan secara aklamasi pada Proklamasi Pegangsaan tapi De Facto surat ini menjadi pedoman kita semua". Surat 5 September 1945 yang berisi maklumat itu berasal dari Sri Sultan yang berisi bahwa :

Pertama : Bahwa daerah istimewa Ngayogyokarto Hadiningrat bersifat kerajaan adalah daerah Istimewa dari negara Republik Indonesia.

Kedua, bahwa kami sebagai kepala daerah memegang kekuasaan dalam negeri Ngayogyakarto Hadiningrat dan oleh kerna itu berhubung dengan keadaan dewasa ini segala urusan pemerintahan Ngayogyokarto Hadiningrat mulai saat ini berada ditangan kami dan kekuasaan lainnya kami yang pegang.

Ketiga : Bahwa perhubungan antara Negeri Ngayogyokarto Hadiningrat dengan pemerintahan pusat negara Republik Indonesia bersifat langsung dan kami bertanggung jawab atas negeri kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Tiga poin dalam isi surat itu sesungguhnya adalah sebuah negosiasi politik kepada Pemerintahan Republik Indonesia dari kekuasaan Yogya. Bahwa Raja Yogya bersedia masuk ke dalam struktur Indonesia apabila kekuasaan di Yogyakarta terjamin oleh Pemerintahan RI. Sesungguhnya Sri Sultan membuat statement ini adalah kecerdasan Sri Sultan karena ia tidak mau kelak Yogya akan banjir darah oleh revolusi sosial kemudian Yogya dipimpin oleh kelompok-kelompok revolusioner yang tidak bertanggung jawab. Pandangan visioner Sri Sultan ini terbukti jitu : Beberapa waktu kemudian, Kesultanan Deli di Sumatera Timur dan Surakarta terjadi revolusi sosial. Seluruh bangsawan Deli dibantai oleh pasukan yang mendukung terjadinya gerakan anti kerajaan sementara di Surakarta yang sebelumnya diberikan status juga oleh Jakarta sebagai DIS : Daerah Istimewa Surakarta, terkena serbuan pasukan Tan Malaka yang menolak adanya pemerintahan Swapradja, akibatnya status DIS dihapus karena para penguasa Solo tidak bisa mengendalikan keadaan yang take over Solo malah anak-anak muda yang tergabung dalam Tentara Pelajar. Saat itu Sunan Pakubuwono XII dan Sri Mangkunagoro VIII masih bimbang mau berpihak pada Republik atau menunggu Belanda datang. Pada tahun 1940-an seluruh penguasa Kasunanan Solo, Mangkunegaran, Pakualaman dan Kasultanan Yogyakarta adalah raja-raja baru yang terdiri dari anak muda berusia 30-an tahun. Rupanya Sunan PB XII dan Mangkunegoro VIII tidak memiliki kejelian politik seperti Hamengkubuwono IX yang masuk langsung ke dalam struktur pemerintahan RI dan mengendalikan Angkatan Bersenjata serta mengamankan rakyat Yogya dari "Kekacauan-Kekacauan Revolusi".

Tindakan Sultan yang cepat ini justru menguntungkan jalannya sejarah Republik Indonesia di kemudian waktu, karena Sultan dengan kekuasaannya menciptakan suatu daerah kantong yang terkendali. Daerah kantong inilah yang kemudian dijadikan basis perjuangan menegakkan pemerintahan Republik setelah sekutu masuk ke Tanjung Priok. Saat sekutu masuk yang kemudian diboncengi NICA membuat penggede-penggede Republik terancam nyawanya. Sjahrir sendiri pernah merasakan mobilnya diberondong peluru. Hampir tiap malam Sukarno berpindah-pindah tempat karena diburu pasukan intel Belanda, bahkan sering Sukarno tidur di kolong tempat tidur. Hal ini jelas membuat pemerintahan tidak berjalan efektif. Adalah Tan Malaka sendiri yang menganjurkan agar Jakarta segera dikosongkan dari pemerintahan Republik dan Pemerintahan menyingkir ke pedalaman sembari mengefektifkan pemerintahan. Tapi pedalaman mana yang bisa dikendalikan.

Dan Hatta menjawab : "Yogyakarta adalah tempat yang tepat, karena di wilayah sana semua rakyatnya dikendalikan oleh Sultan hanya saja apakah Sultan akan menjamin kita" mendengar ucapan Hatta, Sukarno memerintahkan stafnya menghubungi Sri Sultan. Dalam pembicaraan tidak resmi ditelepon, Sri Sultan berkata :"Saya Sultan Yogya, Sabdo Pendhito Ratu. Menjamin bahwa Pemerintahan Republik Indonesia aman di Yogyakarta" Jaminan Sri Sultan inilah yang dijadikan titik paling penting keberadaan Republik Indonesia ditengah ancaman serbuan pasukan bersenjata Belanda.

Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa untuk menghadapi sekutu dan melobi penggede-penggede sekutu adalah Sutan Sjahrir yang ditinggalkan di Jakarta sementara Presiden dan Wakil Presiden sebagai lambang kekuasaan negara dibawa ke Yogyakarta dengan Kereta Luar Biasa (KLB) yang sekaligus memboyong seluruh keluarga mereka. Keberangkatan KLB itu juga menandai perpindahan Ibukota. Peristiwa itu terjadi pada 4 Januari 1946.

Di Yogyakarta, Sri Sultan bertanggungjawab penuh terhadap keselamatan seluruh penggede Yogya. Seluruh pejabat ditempatkan dilingkungan Keraton. Sukarno ditempatkan di Gedong Agung dan Sri Sultan menghormati kekuasaan Republik Indonesia walaupun sesungguhnya Republik ini baru berdiri. Pejabat-pejabat RI itu rata-rata dalam kondisi miskin. Sultan sendiri yang kerap mengambil emas simpanannya untuk membiayai seluruh operasional pemerintahan. Sri Sultan memberikan tanpa dihitung bahkan pernah gaji pegawai Republiek belum terbayar Sri Sultan dengan dana kekayaan pribadi sendiri membiayai gaji-gaji pegawai republiek.

Tahu bahwa Yogyakarta menjadi pusat kendali Republik. Tentara Belanda tidak berani langsung mengebom Yogya. Hal ini terjadi karena Ratu Juliana dulu adalah teman sekolah Sri Sultan di Belanda. Mereka berdua dari SD sampai Kuliah berada dalam lingkungan yang sama. Sri Sultan dipanggil Juliana sebagai Hengky. Bahkan ada gosip Ratu Juliana memiliki cinta sejatinya pada Sri Sultan. Sebelum Yogya digempur pesan dari Kerajaan Belanda bahwa nyawa Sri Sultan tidak boleh dikutak-kutik. Karena sikap keras Juliana yang tidak memperbolehkan kekuatan militernya menyenggol Sri Sultan maka staff militer di Belanda mengambil kebijakan untuk mempengaruhi Sri Sultan agar berpihak pada Belanda.

Sri Sultan ditawari menjadi pemimpin pemerintahan bersama Indonesia-Belanda tapi Sultan menolak. Baginya Indonesia adalah tujuan hidupnya. Karena tidak sabar atas sikap keras Sri Sultan yang berdiri dibelakang pemerintahan Republik maka Belanda mau tidak mau harus menguasai Yogyakarta.

Pada tahun 1948 setelah terjadinya geger Madiun, Belanda punya taktik yang khas dengan caranya yang licik menikam pemerintahan Republik di Yogya. Belanda awalnya mengadakan perjanjian kerjasama latihan militer dengan TNI sebagai wujud gencatan senjata tapi kemudian malah dari Semarang pasukan Van Langen menerobos Yogya dengan Operasi Kraai. Sepuluh ribu penerjun payung menghujani udara Maguwo, Yogyakarta diserbu tanpa persiapan.

Saat itu yang jadi komandan keamanan Kota Yogya adalah Suharto (kelak jadi Presiden RI kedua).Tapi entah pasukan Suharto ada dimana. Letkol Latif Hendraningrat sendiri langsung mencari-cari Suharto tapi tidak ketemu. Sudirman masih terbaring sakit karena paru-parunya menghitam. Sedangkan Bung Karno cs sedang rapat di Gedong Agung.

Pasukan Van Langen dengan cepat masuk ke Gedong Agung. Tapi sebelumnya terjadi perdebatan keras. Sukarno menyerah atau melawan sekutu. Sukarno berpendapat bahwa dengan ia menyerah maka dunia internasional akan meributkan agresi militer Belanda dan memberikan dukungan bagi Indonesia. Tapi pihak Sudirman menghendaki diadakannya perlawanan total, Sukarno dan Hatta harus ikut berperang di pedalaman. Sukarno memilih tidak ikut cara Sudirman.

Sebelum ditangkap pasukan Van Langen Sukarno berpesan pada Sri Sultan agar keutuhan Republik Indonesia dijaga. Sultan hanya mengangguk namun sebagai Raja Jawa ia selalu memenuhi janji.

Sri Sultan berpikir keras dengan apa Yogyakarta harus mendapatkan kemenangan politiknya. Suatu sore Sri Sultan mendengar perdebatan melalui BBC bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Delegasi Belanda di PBB menyatakan "Pemerintahan Illegal Republik Indonesia sudah Hilang secara de facto yang berkuasa adalah Belanda kota Yogya sepenuhnya dibawah kendali Pemerintahan Belanda". Mendengar hal itu Sultan mendapat ide untuk mengejutkan dunia Internasional. Dipanggilnya Suharto sebagai Komandan Wehrkreise X untuk membangun serangan kejutan. Lalu terjadilah Serangan Umum 1949 yang kemudian mengubah jalannya sejarah. Setelah serangan umum Pemerintahan Belanda di PBB kalah suara dan dukungan Internasional mendukung Pemerintah Republik Indonesia sehingga pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan RI. Karena Juliana sangat membenci Sukarno maka yang datang menandatangani adalah Hatta sementara di dalam negeri yang menandatangani adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX di depan AJ Lovink.

Penandatangan Pengakuan Kedaulatan adalah pengakuan de facto. Dan Republik Indonesia yang masih bayi benar-benar diselamatkan oleh Sri Sultan sebagai pengasuh yang benar-benar menjamin keselamatannya. Lalu setelah puluhan tahun sejarah hendak dilupakan. Masuknya kelompok-kelompok dogol di Jakarta dan menguasai Politik Indonesia. Hanya karena ingin menggusur kedudukan Sri Sultan sebagai kekuatan politik pada pertarungan 2014 maka mereka ingin menghapuskan status daerah istimewa Yogya sekaligus ingin menghilangkan kekuasaan de facto Raja Jawa yang berada dalam lingkungan bangsa Indonesia.

Benar kata Pram : "Sebuah bangsa yang tidak mengerti sejarahnya sendiri hanya akan melahirkan ketololan-ketololan".


ANTON

Gaji Sukarno dan Gaji SBY



Gaji Bung Karno- Bung Hatta dan Gaji SBY

Di tahun 1945 Bung Karno dan Bung Hatta digaji 1.000 gulden (edisi de Japaansche regering) = gulden jepang, patokan harga beras saat itu 25 sen/kg. Indikator lain lagi 1 gulden = US$ 2,65, berarti 1.000 gulden = US$ 2.650 atau kira-kira nilai sekarang setara Rp.23.850.000,- dan Gaji SBY Rp. 62.000.000,- dana taktis 2 Milyar dan biaya kunjungan ke luar negeri Rp. 80,53 Milyar per tahun. Belum fasilitas renovasi rumah dan lain-lain. Ini artinya gaji Bung Karno dan Bung Hatta lebih kecil nilainya daripada SBY. Dan bila dibandingkan dengan dana taktis serta dana kunjungan (berpergian) maka tunjangan mereka amat jauh berbeda. Dalam setahun ceruk dana yang bisa digunakan SBY atas fasilitas negara bisa mencapai 100 Milyar lebih. Sementara Bung Karno dan Bung Hatta 100 jutaan (nilai sekarang).

Bung Karno dan Bung Hatta saat itu berkunjungan dengan menggunakan kereta api dan pernah juga dengan pesawat yang resikonya ditembaki oleh NICA setelah 1945. Selama di Djakarta Agustus 1945- awal 1946 Bung Karno tiap malam berpindah-pindah tempat tidur dan dua kali rumahnya diberondong peluru NICA yang membonceng sekutu. Atas perlindungan Sri Sultan HB IX seluruh pemerintahan dibawa ke Yogyakarta. Di Yogyakarta pemerintahan RI tidak memiliki uang untuk menggaji pegawainya, dengan uangnya sendiri Sri Sultan HB IX menalangi gaji Pemerintah yang diperkirakan nilainya saat ini bisa 1.1 Trilyun untuk membiayai pemerintahan darurat. Sri Sultan membongkar kas keraton dan menjaminkan keutuhan Republik. Selama menjadi Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak mau digaji. Bahkan semua menteri di tahun 1945 hampir semuanya tidak memikirkan gaji, menurut Rosihan Anwar dalam catatannya :"Menteri-menteri itu menganggap kerja bakti untuk rakyat". Tidak ada mobil mewah, yang ada sepeda. Banyak dari menteri rapat kabinet dengan naik becak.

Baik Bung Karno dan Bung Hatta tidak pernah mengeluhkan soal gaji. Di akhir hidupnya bahkan Bung Karno tidak punya uang sama sekali, sampai-sampai pengen jajan duku minjem duit ajudannya yang bernama Putu Nitri. Bung Hatta tidak pernah mengeluhkan penghasilannya, kisah terkenal adalah ia menyimpan gambar iklan sepatu Bally dari koran dan mengumpulkan uang untuk membeli sepatu itu, di akhir hidupnya uang pensiuan Bung Hatta bahkan tak cukup buat bayar listrik, Ali Sadikin Gubernur DKI yang membantu untuk mengurusi listrik dan air rumah Bung Hatta.

Hasil kerja para pemimpin saat itu :

1. Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Mewariskan modal nasional luar biasa dan menjadi negara dengan kekayaan sumber daya alam nomor tiga di dunia.
3. Mewariskan rasa kebangsaaan yang hidup.
4. Mewariskan dasar-dasar konstitusi dan landasan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sementara Pemerintahan SBY apa yang bisa dihasilkan?

Malari Titik Balik Terpenting Bangsa Ini



Tiga Puluh Tujuh tahun yang lalu pecah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974. Dalam sejarah Malari sama sekali tidak dikenal bahkan hanya dibaca simpang lalu, peristiwa ini kalah dengan peristiwa yang dianggap penting lainnya dan nilainya sama dengan kerusuhan-kerusuhan yang biasa terjadi di Jakarta. Padahal dalam sejarah Indonesia modern, Malari 1974 adalah satu-satunya peristiwa yang paling penting dalam membentuk ke Indonesiaan, Malari adalah satu peristiwa yang membentuk peradaban ke Indonesiaan kita sekarang, Malari juga adalah pengantar untuk menjelaskan alam pikiran orang Indonesia dalam melihat bangsanya : Kenapa bangsa ini menjadi manusia-manusia yang terbudaki alam kebendaan.

Dalam perjalanan sebuah bangsa dikenal satu line, dimana satu garis itu ada milestone, hidupnya tonggak-tonggak penjungkirbalikkan tatanan masyarakat. Di Indonesia tonggak itu terjadi pada 1928 dimana kesadaran berbahasa dan wilayah terbentuk disinilah fase pertama sebuah bangsa terjadi : Fase kekuasaan. Kemudian pada tahun 1948 sebuah pilihan politik penting diputuskan melalui sebuah mitos di kaki gunung Lawu pada peristiwa konferensi Sarangan, ada atau tidaknya konferensi Sarangan 1948 sebagai sebuah fakta tidak lagi menjadi begitu penting setelah penyerbuan pasukan Siliwangi ke Madiun. Pada tahun 1948 seluruh gerakan kiri menjadi musuh bersama, pada tahun itu penasbihan kekuatan angkatan bersenjata yang anti gerakan kiri bertransformasi menjadi kekuatan elitis yang menentukan arah bangsa. Pada tahun 1948 tercipta fase kedua : Orientasi Bangsa Yang Melihat Amerika Serikat Sebagai Role Model Pembentukan Masyarakat Republik. Lalu di tahun 1965 merupakan tahun pembuka bagi keputusan apakah Orientasi itu menjadi sebuah tatanan masyarakat yang berdikari. Disini tatanan pembebasan diletakkan pada landasan paling dasarnya yaitu : Modal, lewat sebuah sistem politik antitesis dari pembebasan : Demokrasi Terpimpin yang akan mengantarkan pada Demokrasi Murni setelah tiga prasyarat dasar kemandirian terbentuk yaitu : 1. Kemandirian Politik 2. Berdikari secara Ekonomi 3. Berkebudayaan Otentik. Tiga landasan ini akan membentuk satu peradaban baru bernama Indonesia Raya sebuah peradaban alternatif yang memecah kebekuan dualisme yang tercipta akibat penyelesaian perang dunia yang tidak sempurna : Peradaban Komunis-Stalinis di Timur dan Peradaban Liberal di Barat.

Tahun 1965 adalah masa penentuan apakah tatanan masyarakat menjadi tatanan yang mandiri dan otentik atau tatanan yang bergantung pada kekuatan kiblatnya dalam hal ini Amerika Serikat. Sukarno menolak tatanan yang bergantung pada kiblat itu, dengan jenius ia menyelesaikan seluruh persoalan wilayah yang menggantung pada masa perang revolusi, ia berhasil membangun lumbung modal. Lalu ia membuat konsep geopolitik ala Jawa terciptanya : Negara Inti dan Negara Mancanegara sebagai magersarinya. Negara Inti adalah Republiek Indonesia sementara Mancanegara atau Satelit Ring Satu adalah Singapore, Malaysia, Filipina dan Australia. Negara inti dan Satelit Ring Satu inilah yang akan digunakan sebagai kekuatan inti yang akan dijadikan modal dasar dalam pembentukan Triumvirat Asia : India-Indonesia-Cina. Triumvirat ini akan menjadi pusat industri yang mandiri dan tidak bergantung pada Amerika Serikat, Sovjet Uni atau Inggris. Tapi nasib Sukarno sangat tragis ia ditinggal sendirian oleh para Jenderalnya, dan ia marah soal pembangkangan Jenderal-Jenderalnya soal Malaysia, ia marah soal penyabotan pikiran Angkatan Ke V, sebagai sebuah kolone kekuatan massal yang mampu mengepung secara bersamaan front utara berhadapan dengan Malaysia dan front selatan membuka perang dengan Australia. Lalu penyelesaian lama terjadi, penyelesaian ala Jaman Revolusi 1945 : PENCULIKAN. Penyelesaian yang biasanya diselesaikan dengan cara penghadapan paksa ke penguasa ini malah diselesaikan hanya dengan tembakan prajurit-prajurit kroco di depan pintu rumah para Jenderal dan ini membuat Sukarno tersudut, jutaan orang harus kehilangan nyawanya. Impian Sukarno hancur lebur bersamaan dengan membusuknya ginjal Sukarno dan ia mati dalam kondisi lebih buruk dari pengemis di pasar yang tergeletak tanpa perawatan. Tragedi Sukarno ini akan membuka tragedi bangsanya.

Tembakan prajurit di depan rumah Jenderal itu mengantarkan Indonesia masuk ke dalam fase ketiga : Fase Pembentukan Fundamen Kekuasaan Elite yang sah digunakan saat beberapa Jenderal memaksa Sukarno untuk menandatangani sebuah diktum militer yang kemudian diselewengkan menjadi sebuah nota penyerahan kekuasaan pada 11 Maret 1966.

Seluruh intelektual yang berpikiran barat, anak-anak muda kritis pembaca banyak buku, dan seluruh kekuatan yang ingin Indonesia meloncat ke peradaban liberal yang tidak mau dicekoki : Patung dan Pidato, bersatu menjungkirkan Sukarno. Sementara nun jauh dari Jakarta pembantaian massal terjadi, sungai-sungai banjir darah manusia dan jutaan nyawa manusia dipenggali kepalanya. Sebuah keinginan modernisasi bertemu dengan pembantaian yang akan menjadi trauma seluruh keluarga-keluarga di Indonesia dan ini dua peristiwa ini menemukan muaranya : Bangsa Yang Sakit Jiwa.

Lalu setelah 6 tahun berjalan menjauhi tahun 1965, bangsa yang sakit jiwa ini dikoreksi, muncul gerakan revolusi Mahasiswa di Perancis pada tahun 1968 yang menyadarkan bahwa kehidupan sosial yang penuh nilai-nilai moral akan rusak oleh tatanan kapitalisme. Sementara di Indonesia kapitalisme menemukan benihnya yang jahat : MODAL ASING, HUTANG LUAR NEGERI DAN PEJABAT-PEJABAT KOMPRADOR. Pertemuan-pertemuan politik mahasiswa diadakan dimana-mana, jaringan kampus terbentuk lagi tapi kali ini bukan soal membantai mahasiswa PKI atau CGMI tapi soal membentuk arahan politik baru yang lucunya ketika mereka menendangi pantat PKI di tahun 1966 mereka menoleh pada dasar-dasar pemikiran Karl Marx yang mereka sebut : KIRI BARU, New Left. Gelombang kiri baru ini menjadi arus besar pemikiran di Eropa Barat dan Amerika Serikat, ia membangun bentuknya pertama kali pada pemikiran sastra dan teater lalu merambah pada kritik tatanan masyarakat, di Eropa Barat Kiri Baru diterima tanpa kekerasan karena masyarakat demokrasi sudah terbentuk sempurna, bahkan kiri baru menjadi landasan ekonomi paling penting bagi Eropa Barat dimana kekuatan ekonomi tidak bergantung pada pusat-pusat modal dan barisan pejabat yang korup.

"Negara Tanpa Ketergantungan" adalah tema besar yang awalnya diteriakkan Arif Budiman ditengah seminar New Left pada tahun 1971 menjadi dasar pemikiran baru mahasiswa, mereka menyerang Jenderal-Jenderal kaya, mereka mengeritik negara dengan kekuatan militer dan mereka tersadarkan 'Demokrasi Terpimpinnya Sukarno, Sudah menjadi Negara Neo Fasis oleh Suharto'. Lalu mereka bertanya siapa cukong negara neo fasis ini? jawabnya : Cukong dari kekuasaan neo fasis ini adalah Modal Asing. Dan ketika kelompok Widjojo Nitisastro menyerang Pertamina, kelompok ini juga menyadarkan Orientasi tatanan barat yang diinginkan, muncul kelompok lain yang tiba-tiba menjadi penyeimbang Widjojo cs. Kelompok Hoemardani yang dekat dengan jaringan modal Jepang. Widjojo dan Hoemardani bertempur, sementara rivaalitas para Jenderal berlangsung ketat. Ali Sadikin membangun basisnya, Jenderal Mitro membangun benih-benih pemberontakan mahasiswa dan Ali Murtopo membentuk skenario penjebakan bagi Jenderal-Jenderal yang mulai berlagak menyaingi Suharto. Lalu mahasiswa tanpa sadar terkooptasi permainan para Jenderal ini, mereka gagal membangun kekuatan otentiknya, mereka tidak percaya diri untuk bertindak kecuali bergerak dengan jaminan perlindungan para Jenderal dan mereka tanpa sadar toh para Jenderal itu juga terjebak sebuah permainan intelijen.

Lalu ditengah rapat mahasiswa menemukan momentumnya : Kedatangan Tanaka. Kemudian mereka menyiapkan barisan, menyerbu pusat-pusat negara dan berpidato dimana-mana tapi tahun 1974 bukan jamannya revolusi 1945 dimana rakyat memiliki ruang spontannya, tahun 1974 adalah tahun dimana para intel pegang peranan. Masuklah isu Ramadi, kemudian dokumen itu dibaca Suharto lalu Ali Murtopo mendapat angin, kemudian beberapa sektor di Jakarta rusuh, Jenderal Mitro kehilangan kendali di Jakarta dalam hitungan enam jam dia terlambat menghambat pembakaran di Senen, secara legitimasi sebagai Pangkopkamtib dia gagal dan dia terjebak masuk ke dalam skenario intelijen. Jenderal Mitro dipanggil Suharto dan akan dibuang ke AS sebagai dubes, tapi Mitro menolak lalu keluar dari ruangan Suharto ia bukan siapa-siapa lagi.

Suharto marah-marah di depan helikopter yang mengantarkan Tanaka ke Bandara, tapi Suharto punya kesempatan menggebuk unsur terakhir para Jenderal yang menggangunya dan Suharto memenangkan pertarungan paling penting bagi pembentukan peradaban Indonesia paling fundamental : MODAL ASING DAN KETERGANTUNGAN EKONOMI. Inilah kemenangan yang tidak mungkin lagi dilawan oleh kekuatan apapun. Modal Asing dan Ketergantungan ekonomi menjadi tiang paling kokoh pembentukan elite pejabat. Dari sinilah kemudian lahir pemodal-pemodal kecil di dalam lingkaran Pertamina atau Cendana dan lingkaran ini kelak akan menjadi penguasa justru setelah Suharto jatuh.

Malari 37 tahun adalah sebuah kisah yang bisa menjelaskan peradaban kita. Kenapa di Jalan-jalan raya sistem transportasi hancur lebur tapi mobil-mobil mewah berkeliaran, status manusia bergantung dengan sistem kebendaan, merk mobil akan menjadi status sosial di masyarakat bukan intelektualnya atau gerak sosialnya, Metro Mini dan Kopaja sampai detik ini masih menjadi angkutan ditengah negara lain bisa menyediakan sistem angkutan massal seperti kereta bawah tanah atau trem yang murah tapi nyaman. Manusia Indonesia dibudaki oleh barang-barang asing yang harus ia beli. Pembangunan mall-mall menjadi ruang publik satu-satunya, pusat kebudayaan tidak lagi berada di taman-taman kota dan Balai Masyarakat tapi dibangun di plaza-plaza pembelanjaan. Inilah tragedi sebuah negara yang di awalnya ingin membangun masyarakat sejahtera berkeadilan sosial malah melahirkan : Masyarakat Budak Kebendaan.

Kuliah Hukum-Hukum Revolusi




Kuliah Hukum-Hukum Revolusi

PENGANTAR

Revolusi adalah perubahan yang cepat atas susunan masyarakat, ia terdiri dari ribuan katalisator yang mengubah keadaan. Dalam revolusi perubahan keadaan bergerak sangat cepat bisa dalam hitungan jam. Dalam sejarah Indonesia modern Revolusi atas susunan masyarakat hanya terjadi dua kali dan ini menelan korban yang luar biasa. Pertama : Revolusi Egaliter 1945 dan Kedua, Revolusi Elitis 1965.

Pada hakikatnya revolusi adalah mengubah pola pikir, mobilitas status sosial, mengubah susunan logika yang terbangun mapan, mengubah kebudayaan, mengubah arus informasi dan yang paling penting revolusi adalah mengubah : PETA MODAL. Tentang peta modal inilah yang tidak pernah dibahas baik dalam hukum-hukum revolusi Lenin, hukum-hukum revolusi Mao atau hukum-hukum revolusi Sukarno baik Lenin, Mao dan Sukarno bergerak dan terpaku pada mobilitas sosial saja, mereka tidak mendefinisikan pemetaan gerak Modal sehingga revolusi mereka penuh propaganda tapi gagal memasukkan konstelasi gerak modal sehingga mereka kerap terjebak pada persoalan-persoalan budaya, persoalan-persoalan logistik dan persoalan-persoalan wilayah (geopolitik) mereka gagal memenuhi analisa perkembangan masyarakat yang ditentukan hanya dan oleh hanya satu soal : MANUSIA.

Di Indonesia tahun 1998 adalah bukan tahun revolusi, tapi tahun gagalnya rezim masyarakat tertutup menahan gempuran arus informasi yang dikembangkan oleh Internasionalisme Liberal lewat Internet, Asimetri Informasi tidak lagi monopoli Cendana and his gang tapi sudah dipancarkan lewat beberapa fraksi yang pecah kongsi dengan Cendana seperti : Militer, Cendikiawan dan Agamawan. Pemeran utama dalam reformasi 1998 tetaplah orang-orang yang dibesarkan oleh rezim Suharto, dibesarkan oleh modal Suharto dan dibesarkan oleh logika-logika Suharto. Terlepas dari habisnya kelompok cendikiawan yang dibabat Suharto sejak penangkapan besar-besaran mereka di tahun 1968 dan pembuangan mereka ke Pulau Buru sampai pembebasan mereka 1978-1982 sehingga Indonesia hanya menyisakan intelektual humanis berlagak liberal yang jelas sejak Malari 1974 Intelektualitas diluar arus Suharto nyaris tidak ada kecuali suara-suara rakyat yang tidak sistematis sifatnya.

Ini menjadi jelas bagi kita bahwa selama sepuluh tahun ini sesungguhnya kita mengalami transfer of authority semu, sebuah perpindahan kekuasaan dari panggung Suharto yang teatrikal, penuh drama, taat narasi ke panggung lawak yang konyol, sarkastis, penuh adegan slapstick dan diselingi pertunjukan sulap. Dan sebagai gerak sejarah yang alami maka intermezzo panggung lawak ini akan berakhir menuju panggung yang sesungguhnya : Cerita Inti. Masalahnya cerita inti sejarah kita bergerak kemana : Melanjutkan Cerita Suharto apa Cerita Sukarno atau Menuju Sesuatu yang tak pasti? Inilah problema yang dihadapi bangsa ini sementara perpindahan panggung ini jelas membutuhkan perubahan total di masyarakat, dan inilah arti penting untuk menyadari ‘HUKUM-HUKUM REVOLUSI’. Hukum-hukum revolusi adalah sebuah gerakan modus untuk menguasai keadaan, membimbing keadaan dan menciptakan bangunan keadaan. Ini harus terstruktur sepenuhnya dan tidak acak, bila acak maka masyarakat akan kehilangan pegangan. Tapi hukum-hukum revolusi tidak boleh menyentuh jiwa dari masyarakat yaitu : hubungan-hubungan batin yang akan menyebabkan trauma, bila ini terjadi maka kita akan mengulangi masa penuh trauma seperti yang dilakukan Suharto ketika membentuk masyarakatnya seraya bertanggung jawab atas pembantaian 3 juta nyawa, pecahnya hubungan keluarga-keluarga, rusaknya hati nurani dan membentuk masyarakat paranoid.

Hukum-hukum revolusi Pertama harus mengantarkan pada manusia Indonesia pada : Pembebasannya, sebuah bangunan yang diinginkan oleh mimpi, oleh alasan dan oleh gerak intelektual seperti yang ditasbihkan pada Pembukaan Konstitusi 1945. Pembukaan inilah definisi bangsa Indonesia. Tidak bisa tidak, kecuali bangsa ini membubarkan Republik Indonesia yang dinotariskan pada rumah Sukarno di Pegangsaan. Konstitusi ini adalah kesepakatan bersama atas definisi mimpi membentuk bangsa itu.

Kedua, hukum-hukum revolusi tidak boleh lepas dari situasi keilmiahannya, ilmiah adalah syarat paling utama membentuk masyarakat modern. Ilmiah adalah satu-satunya pilihan dalam menentukan pilihan masyarakat yang kritis dan menempatkan manusia pada kemanusiaannya. Agen-agen revolusi yang berada dalam lingkaran dalam revolusi adalah manusia-manusia yang sudah tersadarkan intuisi keilmiahannya, ia tidak boleh menjadi bagian dari tahayul, bagian dari irasional dan muncul diluar logika-logika kemanusiaan maka bila ini terjadi revolusi hanya mengantarkan manusia pada satu lembah yaitu : Masyarakat Mitos. Masyarakat Mitos ini adalah penghalang pertumbuhan sehat masyarakat dan percaya atau tidak selama 60 tahun lebih kemerdekaan Indonesia, kita terjebak pada masyarakat mitos itu. Dan puncak dari mitologi itu adalah : SAKRALITAS KEKUASAAN.

Pembongkaran sakralitas kekuasaan sudah dilakukan pada reformasi 1998 tapi justru membangun sakralitas kekuasaan yang baru yaitu : Agen Modal. Agen-agen modal yang tumbuh pada tahun 1980-an ini seperti cerita Machiavelli pada Pangeran Medici tentang Pangeran-Pangeran Perancis yang berkuasa disetiap wilayahnya sehingga kekuasaan Perancis mudah dikuasai tapi tidak mudah di’absolutkan’. Agen-agen modal inilah yang juga menentukan siapa Raja, siapa Bandit. Mereka menjadi pemegang konsorsium Republik dan berhak atas seluruh klaim nasional. –Tapi perlu diingat panggung yang mereka selenggarakan masih lemah karena mereka bergantung pada modal asing, mereka bergantung pada pasar uang asing dan mereka bergantung pada konstelasi gerak uang yang berputar. Inilah tumit Achilles mereka, sementara hak daulat modal bisa dibangun oleh jutaan manusia Indonesia yang bergerak di Pasar-Pasar, yang bergerak di sektor menengah, oleh pengusaha-pengusaha kecil menengah dan oleh kaum intelektual yang tumbuh di tepi-tepi kota dan desa. Kelompok inilah yang kelak akan meruntuhkan dan membawa Indonesia ke panggung berikutnya.

Teori yang saya uraikan pada paragraf diatas sudah cukup masuk dalam hukum revolusi pertama ciptaan Sukarno : ‘Menentukan lawan dan kawan’. Tapi demarkasi ini tidak akan semudah Sukarno dalam mendefinisikan siapa lawan, siapa kawan. Tidak akan semudah ciptaan redaksional Kontrarevolusi, kontrev, si kepala batu tapi dengan mengimajinasikan lawan dan kawan berarti kita sudah masuk pada fase awal perubahan dan ini menjadi panduan sebelum masuk ke dalam hukum-hukum Revolusi yang akan saya uraikan nanti tapi sebelumnya saya akan sodorkan Prolog kepada anda : masyarakat otentik apa yang sudah terbangun di Indonesia. Hal ini sebagai pengantar panggung masyarakat mana yang akan kita pilih, revolusi jenis apa yang akan kita mulai seandainya rezim SBY selesai sehingga kita bisa menentukan panggung kita, bisa menentukan narasi kita lalu kita mampu menentukan masa depan.

TEMA BESAR

Pengantar Hukum-Hukum Revolusi ini akan menjelaskan dulu apa tema besar dalam revolusi, seperti yang kita lihat selama sepuluh tahun ini bangsa ini tidak memiliki tema besarnya. Terutama sekali lima tahun belakangan dibawah kepemimpinan Rezim Peragu Susilo Bambang Yudhoyono. Tema besar yaitu : Lompatan Masyarakat, Lompatan kebudayaan, Lompatan cara berpikir dan Lompatan ekonomi dimana mustinya pemerintahan ini selama masa damai setelah Pemilu (2004-2009) membangun landasannya, tapi itu disia-siakan dan mereka bergembira atas ketidaktahuan mereka menyia-nyiakan waktu.

Mari kita lihat ke belakang tentang gerak sejarah kita, Indonesia dibangun dengan basis lompatan yang luar biasa. Coba catat : Dalam sepuluh tahun yaitu : 1945-1955 Indonesia bisa memimpin Bangsa-Bangsa Asia Afrika menemukan identitas nasionalnya, dalam sepuluh tahun Indonesia mampu menjadikan sebuah negara dengan sistem masyarakat yang saling bergesek tapi menuju pada arah persatuan yang solid. Namun lompatan besar sepuluh tahun itu terganggu oleh konstelasi politik Internasional yaitu : Tatanan Dunia Berdasarkan Blok. Blok Kanan dan Blok kiri pada dasarnya kedua blok ini adalah Imperialis, inilah yang mendasari Tan Malaka untuk mengucapkan kalimat terkenalnya : “Kita tidak mau menjadi budak Imperialis Amerika pun tidak mau menjadi Budak Moskow” lalu berdasarkan analisa ini maka Sukarno di tahun 1953, pada sebuah malam yang dingin ketika ia membacai buku-buku geopolitik dan mendalami lagi Ernst Renan, maka ia berkesimpulan : “Langkah Pertama adalah menyelamatkan wilayah modal Republik, langkah kedua adalah mendefinisikan pola Imperialisme baru sehingga kita bisa mendeteksinya sekaligus menciptakan gerakan perlawanannya”. Jelasnya definisi Sukarno ini masih abstrak sampai ia menemukan polanya di tahun 1958 saat Pesawat Pope jatuh maka Sukarno sudah menemukan alasannya dalam membentuk konsolidasi kekuasaan demi menyelamatkan politik modal. Ia membaca gejala bahwa Amerika Serikat akan masuk dalam garis geopolitik Indonesia.

Lalu lahirlah tema besar Sukarno, TRISAKTI : Politik Mandiri, Ekonomi Berdikari dan Berkebudayaan Otentik. Ini adalah tema luar biasa dan meloncati logika umum yang tidak dimengerti banyak orang.

(Bersambung : TRISAKTI DAN TEMA BESAR PENGHANCURAN POLITIK MODAL)

Gentleman-nya Bung Hatta


-->

Banyak orang mengira termasuk hampir semua sejarawan bahwa mundurnya Hatta di tahun 1956 adalah ketidakcocokannya dengan Bung Karno. Tapi sebenarnya tidak, Hatta tidak pernah memusuhi secara serius Sukarno, Hatta sama sekali tidak ada masalah pada tahun 1956 dengan Sukarno atau keputusan-keputusan politik besar. Pembubaran Konstituante justru dilakukan setelah Hatta mundur, pemberontakan-pemberontakan di daerah tidak ada hubungannya dengan Bung Hatta, bahkan setelah tahun 1956 beberapa pemberontakan daerah awalnya adalah mosi tidak percaya kepada Djakarta karena dikira Djakarta menyingkirkan Hatta, padahal tidak.

Dalam beberapa titik penting sejarah di masa lalu, Sukarno amat pasif dalam melakukan keputusan-keputusan politik, Sukarno. Hampir semua keputusan ditangani Hatta. Keputusan yang terkenal adalah Maklumat X 1945 soal liberalisasi pembentukan partai-partai politik. Dalam soal itu Sukarno kerap mengeluh ia dilangkahi Hatta. Dalam revolusi Sukarno ingin adanya Partai tunggal, tapi setelah fait accompli Hatta, partai menjadi terlalu banyak dan kerap menimbulkan friksi politik besar, puncaknya adalah perang Solo yang berakhir pada geger Madiun 1948.

Akhir Tahun 1948, Belanda menerjunkan puluhan ribu tentara mereka serentak ke kota-kota penting di Indonesia. Di muka dunia Internasional aksi itu dikatakan "Aksi Polisionil" karena Belanda masih menganggap Indonesia adalah wilayah dalam negeri Belanda. Sementara pihak Indonesia menyatakan itu adalah "Agresi Militer yang kedua" setelah sebelumnya terjadi tahun 1947, Indonesia menuduh inilah yang disebut ekspansi militer sebuah Negara kepada Negara lain seperti hal-nya Hitler menginvasi Polandia. Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim dan pemimpin-pemimpin lain di Yogya ditangkapi. Militer Republikein lari ke gunung-gunung mereka menolak untuk ditangkap, pihak Militer praksis dipegang Jenderal Sudirman yang sudah rusak paru-parunya untuk menembus lebat hutan di Jawa Tengah dan Timur melakukan konsolidasi pasukan.
Saat itu Tan Malaka sudah berhitung, “Kekuatan Belanda tinggal sedikit lagi, saya tahu benar watak orang Belanda. Dia tidak akan melakukan kekuatan besar-besaran bila tidak putus asa. Saya perkirakan perang paling lama akan berlangsung selama 2 tahun lagi, sementara Amerika Serikat dan Sovjet Uni masih pusing soal Eropa setelah selesainya Hitler dibunuh”

Belanda berlagak gagah dimana-mana, tank-tank Sherman berkeliling ke segenap penjuru kota dan membangun pencitraan bahwa Hindia Belanda dalam waktu dekat akan berdiri kembali. Ternyata terbukti dengan serangan militer yang sporadis dari militer Indonesia pasukan Belanda keteter dimana-mana. Serangan Umum di Yogya dan Serangan umum di Solo membuat Belanda keliatan kelemahannya. Tapi tidak bagi kelompok pro perundingan.

Di tahun 1945 ada perbedaan antara Pemuda-Pemuda Djakarta dengan Djawa Tengah dan Djawa Timur. Pemuda-pemuda Djawa Tengah dan Timur memutuskan tidak mau berunding dengan pihak Djepang soal merebut gudang senjata, mereka langsung perang dan rakyat mengepung gudang. Senjata-senjata banyak didapatkan, bahkan di Surabaya kelengkapan militernya akibat merebut gudang senjata mampu secara jantan menghadapi Inggris, dan sejarah mencatat : ‘Hanya di Surabaya-lah Inggris kalah perang’. Di Djawa Tengah juga begitu, tidak ada perundingan gudang-gudang senjata harus direbut. Perebutan senjata ini nyaris tak menimbulkan korban, bahkan Kapten Suharto (kelak jadi Letkol Suharto) berhasil merebut gudang senjata di Kotabaru dan pasukannya memiliki alat kelengkapan militer paling kuat. Di Djakarta lain lagi ceritanya, keputusan saat itu adalah perundingan untuk merebut gudang senjata, akibatnya fatal. Puluhan tokoh pemuda mati dalam perang saat perundingan berlangsung bertele-tele, Daan Mogot dan tragedi dua anak Margono Djojohadikusumo : Subianto dan Sujono di Serpong Januari 1946. Akibat perundingan inilah pemuda-pemuda Djakarta terlalu lemah dibandingkan rekannya yang di Djawa Tengah dan Djawa Timur.

Begitu juga dengan pemikiran memperpendek perang revolusi 1945. Tan Malaka berpikir apabila perang diperpendek dengan perundingan maka yang terjadi adalah ‘Revolusi melahirkan bangsa yang lembek’. Tan Malaka ingin dilakukan perang total karena dengan hanya perang total-lah “Semua royan-royan revolusi bisa melahirkan rasa persatuan yang amat kuat diantara rakyat Indonesia, rakyat akan paham tujuan besar bangsa Indonesia liwat kesakitan-kesakitan perang revolusi”

Tapi kabar di Yogya begitu menyakitkan hati Tan Malaka. Para pemimpin tidak mau tempur mati-matian di hutan-hutan, tidak membangun perlawanan revolusinya. Di tahun 1948 terlihat sekali para pemimpin yang lahir dari dunia pergerakan Intelektual tidak terlatih untuk melakukan perang di hutan-hutan seperti yang dilakukan bekas anak buah Tan Malaka, Ho Chi Minh dari Vietnam. Tan Malaka sudah memperkirakan “Kalau pemimpin ditangkap tak lain tak bukan, ujung-ujungnya adalah Perundingan”.

Generaal Sudirman, adalah pengikut Tan Malaka yang paling setia. Ia orang yang paling mendukung program-program Tan Malaka. Saat pertempuran di Solo terjadi, Sudirman menunggu apa kata Tan Malaka. Saat rapat Persatuan Perjuangan, Sudirman-lah yang membuka pidato rapat, lalu ketika Tan Malaka meneriakkan “Merdeka 100%” maka Sudirman berdiri dan bertepuk tangan seraya bersumpah akan memerdekakan Indonesia, total…setotal-totalnya.

Sukarno sendiri saat itu sudah terjebak pada sistem pemerintahannya yang ia bentuk. Bila ia ke hutan, maka ia akan berhitung ‘siapa yang pegang komando’ bisa saja nanti kelompok Tan Malaka yang bisa drive dirinya. Sukarno selama perang revolusi menyerahkan keputusan ke Hatta, dan Hatta selamanya satu napas dengan Sjahrir lalu terjadilah keputusan yang paling amat dibenci Tan Malaka “Berunding dengan Belanda”
Perundingan KMB di Den Haag akhir tahun 1949, merupakan penghinaan bagi kelompok Tan Malaka. Di Koran-koran terjadi eforia KMB, rakyat seakan-akan gembira menerima keputusan perundingan, dikiranya KMB adalah kemenangan Republik, dikiranya KMB adalah berhasilnya perang. KMB justru adalah ‘Pertanda Indonesia Kalah Perang’ karena dimanapun dalam hukum perang Internasional ‘pihak yang kalah perang harus membayar ganti rugi akibat peperangan’ seperti Jerman yang kalah perang pada Perang Dunia Pertama, membayar dengan ‘Klausa Perjanjian Versailles’ dan Jepang yang kalah perang dengan Amerika Serikat harus menerima pendudukan pasukan Amerika Serikat di Jepang juga Jepang dilarang memiliki pasukan militernya sendiri. Indonesia harus membayar 4.6 Milyar Gulden ganti rugi perang. ‘Jadi logikanya Indonesia harus membayar bangsa asing yang membunuhi bangsanya sendiri’. Akibat perjanjian inilah yang amat lama tidak menjadi bahan perdebatan di muka-muka publik karena para tokoh kharismatis terlibat dalam perundingan ini. Ukuran dana 4,6 milyar gulden itu amat besar dengan nominal pada jaman itu, sebagai perbandingan : di tahun 1950 Amerika Serikat pernah menawari pembangunan jalan besar (Highway Standard) di sepanjang pulau Sumatera dengan konsesi masuknya mobil Ford ke Indonesia sebagai satu-satunya mobil yang bisa masuk ke Indonesia selama 10 tahun. Nilai jalan itu adalah 6 juta dollar, tapi usulan itu ditolak karena akan memberlakukan sistem monopoli. Jadi seandainya 4,6 milyar gulden itu tidak dikembalikan maka 200 kali highway standard bisa dibangun diseluruh wilayah Indonesia.

Setelah terjadi perundingan, Sudirman menolak turun gunung. “Kalau saya turun gunung berarti saya gembira akan kekalahan pasukan TNI”. Generaal Sudirman menolak turun gunung karena ia tahu, perundingan berarti kalah perang. Selama ini banyak di buku sejarah, seakan-akan Sudirman menolak turun gunung karena marah pada Sukarno, padahal bukan. Orang-orang di masa lalu tidak dangkal hatinya, mereka tidak peduli dengan konflik personal. Generaal Sudirman menolak turun gunung karena alasan prinsipil, ia tidak mau kalah perang. “Tapi pada akhirnya” persatuan diatas segala-galanya, pertaruhannya kalau Sudirman menolak turun gunung makan yang akan terjadi adalah perang saudara. Setiap orang tahu pada saat itu, Sukarno yang selalu jadi kartu pegangan orang Indonesia, rakyat akan terjebak pada perang saudara yang tidak mereka mengerti. Sudirman mengalah demi persatuan. Sudirman turun gunung, tapi Tan Malaka ditembak mati di Jawa Timur. Inilah tragedi revolusi.

Beberapa kelompok pasukan Tan Malaka menolak turun gunung, yang paling terkenal adalah Chaerul Saleh. Chaerul ini yang pegang pasukan Bambu Runtjing. Ia terus melawan tentara resmi dan menolak perundingan, pasukan Chaerul Saleh menyerang pos-pos militer TNI di Sukabumi dan wilayah lain di Djawa Barat sebagai aksi bentuk penolakannya terhadap KMB. Bahkan sampai pada tahun 1952 pasukan Chaerul Saleh terus bertempur dengan pihak militer. Inilah yang membuat Nasution marah.

Kebenaran kelompok Tan Malaka akhirnya terbukti pada tahun 1950-an ke atas. Di Vietnam, mereka menolak kalah dari Perancis dan melakukan perang total, di tahun 1952 Perancis angkat kaki dari Vietnam dengan menyisakan ratusan ribu serdadu berkalang tanah di Vietnam. Lalu Amerika Serikat datang dan merebut Vietnam dua puluh tiga tahun kemudian 1975, Amerika Serikat hengkang dari Vietnam dengan rasa malu, tentaranya berlarian ke helikopter seperti tentara pengecut menyelamatkan diri saat pasukan Ho Chi Minh masuk ke kota Saigon. Begitu juga dengan pasukan Mao yang berhasil menghantam kelompok Kuo Min Tang sampai ke Taiwan padahal pasukan Kuo Min Tang didukung Amerika Serikat. Dan saat ini di tahun 2011 kita menyaksikan seluruh Negara Eropa Barat mengemis pada RRC karena krisis ekonomi yang mereka alami.

Inilah yang dimaui Tan Malaka, fase pertama dalam pembentukan Negara atau bangsa yang terjajah adalah perang total. Dalam perang total akan terjadi situasi baru, pemahaman-pemahaman baru, alam sadar baru, dan yang terpenting arah sejarah menjadi lebih jelas tidak lembek.

Terbukti benar di tahun 1950-an perang Korea meletus. Harga-harga komoditi naik : timah, minyak bumi, kopra, karet dll naik. Kejadian ini mirip dengan boom minyak tahun 1973 yang kemudian dijadikan landasan rejeki Suharto di masa Orde Baru untuk membiayai kekuasaannya. Kenaikan luar biasa harga-harga akibat perang Korea 1950-an ini tidak bisa dinikmati rakyat Indonesia karena Indonesia harus bayar hutang perang kepada pihak Belanda. Yang kaya tetaplah perusahaan-perusahaan besar milik Belanda macam Lindeteves atau Borsumij Wehry. Kejadian ini membuat marah anggota Parlemen Komisi A, mereka memanggil Menteri Perekonomian saat itu Prof.Sumitro Djojohadikusumo. Sumitro menjawab “Kita sudah terikat perjanjian dengan Belanda”. Kelompok sisa-sisa Tan Malaka yang saat itu bergabung dalam Partai Murba marah besar ‘Wah, kalau begini caranya kita harus buat mosi tidak percaya terhadap KMB”.

Perjuangan menyusun Mosi tidak percaya ini bukan soal mudah. Kelompok Partai Murba yang dipimpin Maruto Nitimihardjo harus berkelahi kesana kemari untuk meyakinkan mosi tidak percayanya. Untuk memulai mosi ini Maruto mendatangi Hatta lalu Maruto bicara “Masih kurang saja Belanda mengambil dari kita”. Seraya berkata pasrah Hatta berkata “Karena saya yang menandatangani perjanjian KMB itu, saya persilahkan saudara Maruto untuk melanjutkan apa maunya, saya siap menerima segala konsekuensinya”.

Hampir lima tahun Maruto melakukan pendekatan-pendekatan politik ke semua pihak untuk menolak hasil KMB dan menyatakan mosi tidak percaya. Akhirnya mayoritas anggota Parlemen menyetujui untuk melakukan mosi tidak percaya, apalagi setelah Pemilu 1955 Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mendukung apa mau Partai Murba. “Mosi tidak percaya pada KMB”.

Melihat perkembangan mosi itu Hatta secara gentlemen berkata “Saya akan mundur” Saat itu Maruto mendatangi Hatta di kantornya di Merdeka Selatan. Hatta lama memandangi wajah Maruto, dan ia mengeluarkan air mata lalu memeluk Maruto. Setelah pertemuan itu datanglah surat dari Hatta : “Surat Pengunduran Diri”.

Surat pengunduran itu menjadi heboh dimana-mana, bahkan Sukarni Ketua Umum Murba, Partai yang jadi pelopor mosi tidak percaya itu berkata singkat sambil mau nangis : “Wah, Bung Hatta terlalu gentleman”.
Mundurnya Hatta membuat pihak banyak kalang kabut. Achmad Subardjo yang saat itu jadi Duta Besar di Swiss berkata kepada beberapa orang “Sesungguhnya dulu di tahun 1945 terjadi apa namanya Gentleman Agreement Four, mirip Amerika Serikat pada awal Revolusinya di tahun 1776. Seperti perjanjian antara Washington, Jefferson, Madison dan Franklin untuk bergantian menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, walaupun Franklin tidak menjabat tapi tiga orang menjabat bergiliran. Itulah yang terjadi, nah empat orang yang akan bergiliran jadi Presiden saat itu adalah : Sukarno, Iwa Kusumasumantri, Achmad Soebardjo dan Hatta sendiri. Tapi itu tidak terlaksana toh, malah keluar Testamen Tan Malaka”…..

Sukarno berdiam diri saja, ia sudah tahu arah sejarah akhirnya kelompok Tan Malaka yang menang dan benar melihat keadaan. Kemerdekaan 100% adalah tujuan terbesar bangsa ini, lalu dengan inspirasi dari Tan Malaka, Sukarno menjalankan program-program politiknya tapi siapakah yang bisa menggantikan Hatta? Kelompok PSI mengajukan Subandrio, yang pada akhirnya Bandrio malah merapat ke PKI. Sementara Murba harus menarik Maruto Nitimihardjo dan Sukarni sebagai lobbying ke Pemerintah, karena Maruto dianggap Sukarno selalu melawan, sementara Sukarni setiap ketemu Sukarno selalu berantem. Akhirnya Murba memanggil Chaerul Saleh yang di Jerman Barat untuk mendampingi Sukarno.

Dan pada akhirnya sejarah memberi tahu pada kita, ketika Sukarno dikalahkan saat menjalankan agenda Tan Malaka dengan bahasa-bahasa Sukarno yang ia namakan Trisakti, Berdikari, Pantja Azimat Revolusi, Gesuri, Vivere Pericoloso lalu Gestapu 65 terjadi, Sukarno diinternir di Wisma Yaso, Subandrio diseret ke penjara, Chaerul Saleh kabarnya mati di WC Tahanan Militer dan membuat Sukarni di depan jenasah Chaerul Saleh ngamuk-ngamuk kepada Adam Malik karena tak bisa memberikan pertolongan sama sekali kepada Cherul Saleh.

Lalu kita menyaksikan Indonesia seperti sekarang ini, tidak seperti Bung Hatta yang mengakui bila kebijakannya kalah dan tidak diakui, ia harus gentleman, coba sekarang Sri Mulyani menandantangani keputusan talangan Bank malah dilarikan ke luar negeri, ada juga Budiono yang malah dijadikan Wakil Presiden RI, Kebijakan Negara dijalankan tanpa rasa bersalah.

Negara kaya raya yang terus menerus dibodohi oleh Imperialisme asing. Negara dijual untuk kekayaan para pejabat. Kepada sejarah kita harus banyak belajar untuk masa depan Indonesia…………

Mereka Yang Terlupakan.............



Hari ini Presiden SBY menganugerahkan dua gelar Pahlawan Nasional kepada : Damara dan Johannes Leimena. Bagi banyak orang Pahlawan adalah ingatan tentang masa lalu, sebuah masa ketika kehidupan dikorbankan untuk tujuan-tujuan besar, membentuk Negara dan menyelamatkan masa depan.

Tapi penghargaan tak selalu menghadirkan Pahlawan yang sesungguhnya, banyak dari mereka yang terlupakan termasuk pada mereka yang bertaruh untuk membentuk masa depan pada Jam-Jam Pertama Revolusi 1945, mereka ini tidak banyak diberikan perhatian dari Pemerintah, karena keberanian mereka melawan pemerintahan, ataupun keterlibatan mereka pada hal-hal yang berbau kiri, padahal sungguh aneh. Indonesia dibentuk karena memang cita-cita sosialisme, jadi ketika mereka menjadi kiri bukan berarti mereka adalah pengkhianat justru mereka mati demi sebuah cita-cita : KeIndonesiaan Kita.

Maruto Nitimihardjo

Banyak generasi sekarang yang tidak tahu siapa Maruto Nitimihardjo, mungkin bagi generasi tua mengenang Maruto adalah salah satu Tokoh Murba yang paling diingat di samping Sukarni. Padahal Maruto adalah pusar dari seluruh rangkaian gerakan muda di Indonesia dalam kurun waktu 1926-1950.

Maruto adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap Sumpah Pemuda 1928, dialah yang mengilik-ngilik PPPI (Persatuan Peladjar-Peladjar Indonesia) Sugondo Djojopuspito untuk melakukan gebrakan politik dengan membangun jaringan, ide itu kemudian disetujui oleh Kotjo Sungkono ketua PI (Pemuda Indonesia) yang merupakan sayap penting di dalam tubuh PPPI.

Ide Maruto ini didengar banyak kawannya lalu seseorang mengajak Maruto mengajak ke asrama tempat Yamin yang saat itu lagi tidur-tiduran di kamarnya sambil membaca buku. Maruto bertanya kepada Yamin, sedang baca apa kau, Min?. Yamin tertawa sambil memperlihatkan bukunya, coba kau baca Maruto ini buku bagus sekali lalu Yamin memberikan buku berjudul “Naar de Republiek” (Menuju Negara Republik) karangan Tan Malaka. Disaat itu juga ide tentang melakukan “pembentukan jaringan pemuda” dikatakan Maruto kepada Yamin, lalu Yamin menyahut “Ini ide gila, sebaiknya kau sampaikan itu ke Sukarno, dia kan disebut ‘Bapak Persatuan Indonesia’ abis ngomongnya persatuan melulu”.

Lalu Maruto, Yamin, Sugondo dan banyak kawannya ke tempat Sukarno di Jalan Pangkur Bandung, Sukarno saat itu sedang mengajar kursus pada murid-muridnya dalam studieclub Bandung. Salah satunya adalah Gatot Mangkupradja. Di depan tamunya, Sukarno gembira sekali “Coba kamu gerakkan itu” seru Sukarno dengan mata melotot. Setelah mau pulang, Sukarno memesankan pada Maruto “Jaga baik-baik Pergerakan ini”.

Salah satu kelebihan Maruto adalah ia mampu membangun jaringan, Maruto bukan sosok yang penuh ide atau cerdas tidak seperti Yamin yang pengkhayal atau Sjahrir yang teramat cerdas, tapi Maruto adalah orang yang tekun. Dia setia dengan visi-nya, obsesi terbesar Maruto adalah membangun gerakan muda yang mampu mengantarkan jaman ini ke sebuah jaman baru, jaman merdeka. Apalagi setelah membaca buku Tan Malaka, maka Maruto semakin paham ke arah mana Indonesia harus bergerak.

Bila Sukarno selalu berada di panggung sejarah dan memainkan drama-nya, maka Maruto ini selalu yang berkeringat membentuk panggung sejarah. Bila Sukarno, Hatta, Tan Malaka adalah aktor panggung berbakat, maka Maruto adalah tukang kerek layarnya, tukang angkat bangku, tukang yang membereskan segala perabot panggung. Tanpa peran Maruto mungkin panggung itu tak pernah ada.

Banyak orang yang meremehkan arti penting Sumpah Pemuda 1928, padahal lewat koneksi Sumpah Pemuda itu bisa dibangun jaringan penting antar gerakan di daerah-daerah, lalu siapa yang menyangka Daud Bereuh tokoh penting Aceh yang pernah melawan Sukarno adalah salah satu pemuda yang hadir dalam Sumpah Pemuda 1928 dan saat konflik dengan pemerintahan Sukarno di kemudian hari ia hanya bisa berdiplomasi dengan pihak Djakarta apabila ada Maruto. Lalu Hatta mengirim Maruto ke Aceh dan membereskan persoalan sebenarnya dari konflik yaitu : Permusuhan kaum bangsawan dengan Ulama. Maruto juga pernah mau dibunuh oleh Laskar Banten, tapi pemimpin Laskar Banten Hadji Djaya adalah salah seorang yang hadir dari Sumpah Pemuda, Maruto dibebaskan.

Arti penting kedua dari diri Maruto bahwa dialah orang yang paling bertanggung jawab dalam perang di Djakarta. Maruto dan Pandu Kartawiguna adalah tokoh pemuda yang memutuskan perang dengan pihak asing ketimbang berunding. Karena keputusan ini kelompok Maruto pernah diusir oleh anggotan Prapatan 10 pimpinan Eri Soedewo yang lebih ingin melalui jalan diplomasi. Pengusiran Maruto ini justru memancing tumbuhnya lasykar radikal yang angkat senjata di sekitaran Jakarta dan menjadikan Revolusi 1945 jadi perang beneran.


Wikana

Banyak dari orang Indonesia tidak tau siapa Wikana. Padahal tanpa Wikana kita tidak mengenal Indonesia seperti sekarang. Wikana adalah orang yang paling memperhitungkan posisi kemerdekaan Indonesia. Saat itu Sukarno dan Hatta amat percaya pada janji Jepang. Padahal bila diberi hadiah kemerdekaan oleh Jepang maka Indonesia akan jadi wilayah tanpa Tuan, karena apapun pemberian Jepang bisa dibatalkan demi hukum karena Jepang kalah perang. Satu-satunya jalan adalah merebut dari Jepang kemerdekaan itu. Perhitungan Wikana : Bila Indonesia kembali diterima sekutu maka ini sama saja dengan peristiwa 1811 dimana Inggris merebut Jawa dari Perancis kemudian mengembalikannya kepada Belanda. Sementara dua Raja di Jawa tidak segera melakukan pemberontakannya tapi malah asik main intrik sendiri. Akhirnya Jawa dijajah Belanda kembali.

Wikana tau sekali Jepang tidak akan marah, atau bertindak apapun. Seluruh perwira Jepang satu persatu sudah mulai bunuh diri, mabuk ataupun hopeless. Mereka akan membiarkan apapun apabila ada gerakan dari Indonesia. Wikana tau ini karena dia bekerja di Kaigun, atau Dinas Angkatan Laut Jepang. Wikana kemudian menyampaikan ide ini kepada Sukarni yang punya jaringan ke pemuda. Sukarni mendesak untuk memerdekakan sendiri atau bekerjasama bukan dengan Sukarno tapi Sjahrir, karena Sjahrir bukan kolaborator Djepang. Awalnya Wikana setuju ide Sukarni, tapi Sjahrir gemetar saat akan menerima tanggung jawab Proklamasi lalu Sjahrir dating ke rumah Maruto, berulang kali Sjahrir bertanya pada Maruto “apa saya bisa?”

Mendengar keraguan Sjahrir tak ada jalan lain bagi Wikana untuk mendesak Sukarno-Hatta. Wikana lalu datang bersama Chaerul Saleh, Sukarni, Subadio, dan lainnya termasuk DN Aidit (kelak jadi tokoh penting PKI). Disana Wikana yang paling dituakan dari pemuda untuk bicara, tapi Sukarno bicara terlalu keras pada Wikana sampai membentaknya, inilah yang bikin kecewa Sukarni pemuda Blitar berhati panas, sepulangnya dari rumah Sukarno, maka Sukarni bikin ide untuk culik Sukarno dan memaksa usulan Wikana diterima.

Sukarno-Hatta diculik sehabis sahur ke Rengasdengklok, tapi sebelumnya Wikana sudah mendesak pada Achmad Subardjo untuk merayu Sukarno agar jangan sampai bikin Proklamasi buatan Jepang. Berkali-kali Hatta bergumam “tidak mungkin melakukan ini tanpa Jepang, kita belum siap jika harus perang dengan Jepang” Sukarni bersikeras – Jalan satu-satunya adalah Indonesia melakukan sendiri, dan berperang dengan Jepang adalah resiko.

Ternyata lobi Subardjo berhasil, Laksamana Maeda berhasil dibujuk untuk pasang badan melindung Sukarno-Hatta dan para pemuda yang membikin proklamasi bukan buatan Jepang. Awalnya Sukarni membuat sendiri teks proklamasinya, tapi Subardjo menolak “Biar Hatta yang bikin, dia jago untuk buat surat administrasi” lalu lahirlah teks Proklamasi yang gaya bahasanya mirip bahasa Notaris itu.

Sampai sekarang Wikana belum dapat jasa Pahlawan Nasional.


Pandu Kartawiguna


Arti penting Pandu Kartawiguna selain mendirikan kantor berita Antara bersama Adam Malik, dialah orang pertama yang menggerakkan pemuda Djakarta untuk turun ke jalan dan mengangkat senjata. Bersama Maruto, Pandu menggiring pemuda-pemuda membangun benteng-benteng pasir di sekitar wilayah Cikini, Pegangsaan, Kramat Raya sebagai basis pertempuran. Karena gerakan Pandu ini Sukarno marah-marah. Suatu malam Sukarno nyuruh dokter Muwardi untuk manggil Pandu dan Maruto, dipikirnya senang dengan perjuangannya Maruto dan Pandu menghadap Sukarno. Di tengah kumpulan para pembantu Sukarno, Maruto dan Pandu dimaki-maki Sukarno karena berani gerakin pemuda dan ini sama saja mengantarkan nyawa ke pemuda itu.

Pandu sampai keringat dingin gemetaran, ia tak tahan mendengarkan marah Sukarno di depan orang banyak, apalagi ada orang yang menambah-nambahi marah Sukarno itu, padahal Pandu sudah bertarung nyawa guling-gulingan di jalan mempertahankan Djakarta. Sejak kemarahan Sukarno itu beberapa tokoh pemuda tidak terlalu berharap pada Sukarno untuk perjuangan bersenjata, mereka memilih tokoh lain yang kemudian muncul : Tan Malaka.


Sukarni

Sukarni ini ibaratnya api dalam gerakan pemuda, ia yang selalu membangkitkan semangat. Tanpa Sukarni mungkin gerakan muda Indonesia saat itu tidak memiliki daya katalisatornya, daya penghubung agar gerakan menjadi hidup. Sukarni dikenal sebagai pengikut Tan Malaka yang paling setia, berani dan hidup mati demi apa yang diyakininya. Sukarni pernah dikurung di kamar gelap bersama Tan Malaka saat penangkapan kelompok Tan Malaka gara-gara kudeta Djenderal Majoor Sudarsono di tahun 1946.

Sukarni sendiri yang memaksa Sukarno untuk bertaruh di Lapangan Ikada agar ia dipercaya rakyat dan dilihat oleh intel-intel sekutu bahwa dialah pemimpin negeri ini, aksi Sukarni sering bikin kesal Sukarno dan pemerintahannya karena selalu bikin jalan bahaya, tapi aksi Sukarni yang nekat seperti pemaksaan pidato di Lapangan Ikada membuahkan hasil hebat : Sejak Lapangan Ikada, Sukarno memperoleh legitimasi politik luar biasa dari rakyat. Dan Sukarno mengakui itu dengan mendirikan Monumen Nasional, pada hakikatnya bila Proklamasi adalah De Jure, maka Pidato Lapangan Ikada adalah De facto dari Kemerdekaan Indonesia.


Chaerul Saleh

Inilah orang yang hidup demi prinsipnya dan mati dalam tragedi. Sulit membayangkan perang pemuda di masa revolusi 1945 tanpa kehadiran Chaerul Saleh. Perang Kemerdekaan itu terjadi bukan karena perlawanan tentara resmi, tapi karena nekatnya tokoh-tokoh muda. Peranannya dari Proklamasi sama persis apa yang dilakukan Wikana, Chaerul Saleh ini juga seseorang yang banyak akal, ia yang mengusahakan mobil untuk Sukarno, ia yang mengurusi semua persiapan.

Bagi Chaerul Saleh, Revolusi adalah sebuah drama romantik. Chaerul Saleh mungkin dikenang banyak orang sebagai tokoh pemuda yang tampan, karena kisah cintanya dengan Yohana, gadis betawi indo yang amat cantik itulah yang kemudian membawa dia pada imajinasi bahwa semuanya harus penuh dengan romantika-drama.

Di saat Hatta mundur karena bertanggung jawab terhadap pembatalan bayar hutang KMB 1949, Chaerul Saleh di dapuk jadi salah seorang Menteri Sukarno, melalui dialah konsep pembangunan Indonesia dengan mengadopsi strategi Jerman Barat dengan bikin industri-industri besar seperti Krakatau Steel, Pupuk Sriwijaya dilakukan. Chaerul Saleh melakukan lobi-lobi ke Sovjet untuk membantu pembangunan Krakatau Steel, menurut pandangan Chaerul Saleh masa depan suatu negara ditentukan oleh pabrik baja-nya dan dia berambisi Indonesia memiliki Pabrik Baja terbesar di dunia.

Setelah Gestapu 65 Chaerul Saleh habis-habisan di belakang Sukarno. Ia menolak mendukung Suharto, walaupun Partainya Murba memutuskan dukung Suharto. Chaerul Saleh ditangkap dan kemudian dipenjarakan. Lalu ia mati tak jelas di dalam penjara, kabarnya meninggal saat di WC. Inilah yang membuat marah banyak orang.

Dan bagaimana kabarnya Krakatau Steel? Akhirnya saham Pabrik ini dibawah Pemerintahan Komprador SBY dijual amat murah, dan Indonesia harus melupakan ambisi buat Pabrik Baja terbesar di dunia.


Djohan Sjahroezah

Tidak banyak yang mengenal Djohan Sjahroezah, padahal tanpa tokoh ini gerakan pemuda di luar Djakarta tidak bisa bergerak. Djohan ini keponakan Sjahrir – karena hubungan keponakan inilah nama Djohan selalu dikaitkan dengan Sjahrir, padahal Djohan memiliki kemandirian politik bahkan lebih luas ketimbang Sjahrir-. .

Djohan adalah tokoh yang paling bertanggung jawab membangun jaringan gerakan muda untuk mendukung gerakan-gerakan di Djakarta. Salah satu jasa terpenting Djohan Sjahroedzah membentuk jaringan pemuda yang bersiap merebut senjata dari gudang Jepang seperti di Pathook Yogyakarta.

Djohan adalah satu-satunya tokoh dilingkaran Sjahrir yang paling amat dogmatis dalam memahami Marxisme, dia memandang perjalanan sejarah Indonesia sebagai sebuah episode yang dibuat fase-fasenya oleh Karl Marx. Pada episode Revolusi Kemerdekaan, Djohan menilai bahwa itu adalah masa Revolusi Borjuis akan datang masanya Revolusi Sosialis yang sesungguhnya. Jaringan Djohan terpenting adalah saat ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda BPM. Di perusahaan ini Djohan membentuk serikat buruh yang kemudian diradikalisasi, dari serikat buruh ini kemudian menyebar menjadi kelompok-kelompok politik menjelang Belanda jatuh dan sangat berfungsi sebagai kekuatan kelompok Illegal (Bawah Tanah) dalam menentang Jepang dan menyiapkan kemerdekaan. Djohan membangun satelit-satelit perjuangannya di banyak kota seperti di Semarang dia memerintahkan ML Tobing untuk bikin gerakan bawah tanah, di Yogyakarta ia memerintahkan Dimyati dan Dayino lalu menjadi gerakan penting di Yogyakarta dan basis gerakan militer pro Republik pada masa kemerdekaan. Djohan adalah satu-satunya tokoh pemuda yang paling dipercaya banyak kelompok. Dengan kelompok PKI Illegal tinggalan Musso ia juga dipercaya membentuk jalur dukungan. Djohan juga paham jaringan yang dibuat Amir yang sampai saat ini masih amat rahasia dan belum terkuak dalam sejarah, ada hubungan apa Amir dengan Belanda? Apakah benar ada senjata yang disimpan Belanda di banyak tempat termasuk di Banten yang kemudian jadi sumber konflik penting setelah masa kemerdekaan?

Djohan juga yang mendirikan Paras (Partai Rakyat Sosialis). Djohan ini adalah pemuda paling radikal, tapi ia punya Paman yang perhitungan seperti Sjahrir. Setelah Sjahrir dengan celana tennis berpidato di Prapatan 10 tentang politik Diplomasi, tampaknya Djohan cenderung mengikti garis pamannya. Padahal jaringan yang dibangun Djohan amat radikal, jaringan inilah yang kemudian diambilalih oleh kelompok Tan Malaka seperti yang di Solo dan diambil PKI seperti link ke Sumarsono.

Tanpa kehadiran Djohan Sjahroezah amat sulit bagi kelompok pemuda mengoordinasi diri mereka. Tapi sampai sekarangpun Djohan tidak masuk hitungan Pahlawan Nasional.


Soe Hok Gie

Mungkin dari sekian tokoh yang saya ceritakan, Soe Hok Gie adalah tokoh yang paling akrab dengan diri kita. Soe Hok Gie mustinya masuk ke dalam daftar tokoh Pahlawan Nasional.

Soe Hok Gie, adalah seorang keturunan Cina yang darinya justru kita banyak belajar tentang KeIndonesiaan. Dialah tokoh yang paling depan dalam menyadarkan sebuah Indonesia baru, Manusia Indonesia dengan Peradaban Indonesia.

Gie bertarung di jalan-jalan saat penumbangan Sukarno, tapi ia tidak membenci Sukarno ia membenci keadaan, ia tidak membenci PKI, ia membenci keadaan yang PKI masuk dalam lingkaran rumit. Pada akhirnya hanya Gie sendirian yang melawan pemerintah militer Orde Baru dengan menuliskan sebuah naskah penuh pujian kepada Sudisman tokoh PKI yang amat commit terhadap Sukarno.

Gie menolak untuk menjadi pejabat seperti pemuda lainnya macam Akbar Tandjung, Abdul Gafur atau Sofjan Wanandi. Ia memilih tetap pada jalur berjarak dengan kekuasaan. Dalam tulisannya Gie menceritakan pembantaian di Bali karena perburuan-perburuan orang PKI yang amat menyeramkan. Dari sinilah kesadaran Gie muncul, ia harus melawan pemerintahan militer yang tidak benar. Tapi sayang Gie mati muda.

Dari api pikiran Gie inilah kemudian terjajar rapi barisan mahasiswa yang menolak berkompromi dengan garis kekuasaan mulai dari Arif Budiman –kakak kandungnya sendiri-, Hariman Siregar, Dorodjatun Kuntjorojakti sampai pada Mahasiswa yang melawan Orde Baru 1998 dan berhasil menjatuhkan Suharto.

Gie, pantas menjadi Pahlawan Nasional.

Kawilarang gampar Pak Harto



Di KNIL itu ada sekolah Breda kelas jauh Bandung (sekolah jauh
diadakan karena ada masalah dengan perang dunia kedua di Eropa, jadi
sekolahnya dibuka di Bandung), Nah sekolah Breda bandung ini ada
tiga jagoan, mereka adalah : Nasution, Kawilarang dan TB Simatupang.
Kalau Nasution itu jago gerilya sejak lawan pasukan Brigade Tijger
sampai penghadangan di Sukabumi yang diteruskan pertempuran garis
Bandung-Sumedang yang kemudian dikenal Bandung Selatan Di Waktu
Malam. Nah, Nasution ini yang kemudian membuat buku taktik perang
gerilya dimana buku Nasution kelak di tahun 1950-an digunakan oleh
Jenderal Nguyen Giap sebagai babon dalam melaksanakan taktik militer
melawan Perancis.

Kedua, adalah Simatupang. Perwira ini otaknya cemerlang banget,jago
nulis buku, ada rumor konseptor utama serangan oemoem 1 Maret 1949
adalah Pak Sim. Berpikirnya tajam, hanya sayang ego-nya tinggi. Dia
dipecat gara2 banting pintu keras2 ruang kantor Bung Karno. Kemudian
Pak Sim pensiun dan lebih mengurusi bidang agama Kristen. Buku
karangan dia luar biasa bagus judulnya kalo nggak salah "Militer di
saat Perang dan Damai" saya pernah baca buku itu, dibuku itu juga
kalo nggak salah ada gambar Harto berhadapan dengan Kawilarang....

Nah, yang ketiga ini adalah Alex Kawilarang. Orangnya ganteng,
tinggi besar. Paling jago berenang dan atletik. Untuk olahraga
nilainya 9 (soalnya sepuluh untuk Tuhan). Kawilarang ini setelah RIS
bubar dan menjadi NKRI dia menjabat Panglima Komando Tentara dan
Territorium VII/Indonesia Timur (TTIT) di Makassar, kemudian dia
diangkat juga menjadi Panglima Operasi Pasukan Ekspedisi dalam
penumpasan pasukan Andi Azis. Ceritanya dia nempeleng Harto ada dua
kali, Pertama saat si Harto ini bertugas menjadi bawahannya
Kawilarang saat Harto menjabat sebagai komandan Brigade Mataram yang
ditugasi menjaga kota Makassar, saat dirasakan perang sudah mereda
dan berpihak pada kubu pemerintah, Panglima melapor pada Presiden
Sukarno "Pak, Kota Makassar aman"

Presiden Sukarno tertengun heran, lalu Bung Karno memanggil
ajudannya dan mengambil sebuah surat radiogram "Ini apa?"
Ternyata Radiogram itu isinya kota Makassar sudah dikuasai lagi oleh
pasukan Pemberontak, sementara pasukan Brigade Mataram kabur ke
lapangan udara Mandai. Jelas Alex malu berat di depan Bung Karno,
tanpa banyak basa-basi ia balik lagi ke Makassar, sampai di Makassar
ia di turun masih di dekat pesawat Suharto dibentak "Sirkus apa-
apaan ini!" lalu ia menempeleng wajah Suharto.

Nah kejadian lainnya adalah ketika Suharto ketahuan mau nyelundupin
mobil ke Makassar, Alex marah besar dan juga menempeleng Suharto di
Kade Makassar.

Sebagai tambahan Alex ini juga yang nangkep Cak Roeslan Abdulgani di
bandara Kemayoran, dulu kasusnya itu masalah duit dollar.

Kawilarang ini orangnya keras banget, sayang ia terjebak dalam
permainan Permesta, dalam kasus Permesta Mayor M Jusuf yang paling
beruntung, karena dia berpihak ke Jakarta, sementara Kawilarang
tadinya tidak berpihak ke Permesta tapi karena didorong emosional
anti komunis dan perasaan solidaritas daerah dia menjadi bagian dari
gerakan Ventje. Ia diangkat menjadi Mayjen APREV (Angkatan Perang
Revolusioner) kemudian menjadi Panglima Tertinggi Permesta.

Setelah perang Permesta selesai dan akur sama pemerintah, Bung Karno
merehabilitasi nama Alex Kawilarang. Kemudian dia resmi pensiun
dengan Pangkat Kolonel TNI. (coba kalo Kawilarang berontak di jaman
Harto bakal di 'HR Dharsono-kan" atau malah dibunuh)

Setelah itu nggak aktif lagi dia di Angkatan, kalau nggak salah itu
restoran Oasis yang di Raden Saleh dia punya (kalo nggak salah ya),
resto itu dijaman Orde Baru sering dijadikan ajang kumpul-kumpul
veteran petinggi Siliwangi, bisnis Restoran sama juga dengan apa
yang dilakukan Ibrahim Adjie yang kelola Restoran Rindu Alam di
Puncak.

Anehnya yang dendam sama Kawilarang ini bukan Bung Karno tapi
Suharto. Ingat Harto ini orangnya pendendam bukan maen, sama Harjono
MT dia marah, sama S Parman dia marah karna Parman ini jadi oditur
yang meriksa kasus penyelundupan Harto, mungkin hanya Pandjaitan
jenderal yang nggak pernah nyinggung Harto. Tapi yang jelas pada
kasus Penyelundupan orang-orang SUAD jadi eksekutor utama dalam
kasus Harto.

sama Nasution dia dendam karena Nasution adalah orang yang paling
keras dalam kasus Harto, dia pengen Harto dipecat sebagai shock
therapy buat perwira penyelundup. Nasution ini pernah jadi tandemnya
Subandrio dalam operasi Budhi, yaitu berantas koruptor di tahun 60-
an.

jadi Alex selamat tidak di 'Yani'kan bahkan gagal di 'Nasution'kan
karena memang Alex tidak masuk ke dalam sistem pemerintahan dan
enggan dalam kegiatan oposisi, nama jeleknya dalam kasus Permesta
menjadi bayang-bayang buruk. Namun sepanjang Orde Baru Kawilarang
kabarnya tidak pernah ditegur Suharto, barulah pada akhir Orde Baru
Kawilarang sempat marah pada ABRI yang nyeritain dedengkot PDIP
Sabam Sirait, ceritanya begini ...

"Sabam menuturkan bahwa waktu hari ulang tahun Kopassus, ketika
Prabowo Subianto menjabat Danjen Kopassus saat itu lupa mengucapkan
terima kasih kepada Alex. Padahal Prabowo sudah sempat memuji-muji
perwira-perwira senior lainnya. Sabam yang mengingatkan Prabowo
bahwa Kawilaranglah yang mendirikan KKAD atau RPKAD. Lalu Prabowo
kembali naik mimbar dan mengucapkan terima kasih yang ditujukan
kepada Alex.

Tetapi, lanjut Sabam, Alex mengatakan padanya bahwa "saya tidak
perlu ucapan terima kasih dari perwira-perwira rejim ini." Desember
lalu dalam suatu percakapan dengan Radio Nederland Kawilarang yang
secara akrab biasanya disapa dengan Bung Lex, mengatakan:"Ketika
Wiranto masih menjabat Panglima TNI saya pernah mengatakan, melihat
sepak terjang TNI selama Orde Baru saya kira sebaiknya TNI
dibubarkan saja.

Tetapi Wiranto tidak bereaksi," kata Kawilarang. Perwira profesional
ini beranggapan, yang paling tepat memimpin TNI saat ini adalah Agus
Wijoyo. Ia selain professional juga tidak berpihak pada kelompok
kelompok politik saat ini.


Begitulah kira-kira cerita singkat tentang Alex....

ANTON