News Update

Malari Titik Balik Terpenting Bangsa Ini



Tiga Puluh Tujuh tahun yang lalu pecah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974. Dalam sejarah Malari sama sekali tidak dikenal bahkan hanya dibaca simpang lalu, peristiwa ini kalah dengan peristiwa yang dianggap penting lainnya dan nilainya sama dengan kerusuhan-kerusuhan yang biasa terjadi di Jakarta. Padahal dalam sejarah Indonesia modern, Malari 1974 adalah satu-satunya peristiwa yang paling penting dalam membentuk ke Indonesiaan, Malari adalah satu peristiwa yang membentuk peradaban ke Indonesiaan kita sekarang, Malari juga adalah pengantar untuk menjelaskan alam pikiran orang Indonesia dalam melihat bangsanya : Kenapa bangsa ini menjadi manusia-manusia yang terbudaki alam kebendaan.

Dalam perjalanan sebuah bangsa dikenal satu line, dimana satu garis itu ada milestone, hidupnya tonggak-tonggak penjungkirbalikkan tatanan masyarakat. Di Indonesia tonggak itu terjadi pada 1928 dimana kesadaran berbahasa dan wilayah terbentuk disinilah fase pertama sebuah bangsa terjadi : Fase kekuasaan. Kemudian pada tahun 1948 sebuah pilihan politik penting diputuskan melalui sebuah mitos di kaki gunung Lawu pada peristiwa konferensi Sarangan, ada atau tidaknya konferensi Sarangan 1948 sebagai sebuah fakta tidak lagi menjadi begitu penting setelah penyerbuan pasukan Siliwangi ke Madiun. Pada tahun 1948 seluruh gerakan kiri menjadi musuh bersama, pada tahun itu penasbihan kekuatan angkatan bersenjata yang anti gerakan kiri bertransformasi menjadi kekuatan elitis yang menentukan arah bangsa. Pada tahun 1948 tercipta fase kedua : Orientasi Bangsa Yang Melihat Amerika Serikat Sebagai Role Model Pembentukan Masyarakat Republik. Lalu di tahun 1965 merupakan tahun pembuka bagi keputusan apakah Orientasi itu menjadi sebuah tatanan masyarakat yang berdikari. Disini tatanan pembebasan diletakkan pada landasan paling dasarnya yaitu : Modal, lewat sebuah sistem politik antitesis dari pembebasan : Demokrasi Terpimpin yang akan mengantarkan pada Demokrasi Murni setelah tiga prasyarat dasar kemandirian terbentuk yaitu : 1. Kemandirian Politik 2. Berdikari secara Ekonomi 3. Berkebudayaan Otentik. Tiga landasan ini akan membentuk satu peradaban baru bernama Indonesia Raya sebuah peradaban alternatif yang memecah kebekuan dualisme yang tercipta akibat penyelesaian perang dunia yang tidak sempurna : Peradaban Komunis-Stalinis di Timur dan Peradaban Liberal di Barat.

Tahun 1965 adalah masa penentuan apakah tatanan masyarakat menjadi tatanan yang mandiri dan otentik atau tatanan yang bergantung pada kekuatan kiblatnya dalam hal ini Amerika Serikat. Sukarno menolak tatanan yang bergantung pada kiblat itu, dengan jenius ia menyelesaikan seluruh persoalan wilayah yang menggantung pada masa perang revolusi, ia berhasil membangun lumbung modal. Lalu ia membuat konsep geopolitik ala Jawa terciptanya : Negara Inti dan Negara Mancanegara sebagai magersarinya. Negara Inti adalah Republiek Indonesia sementara Mancanegara atau Satelit Ring Satu adalah Singapore, Malaysia, Filipina dan Australia. Negara inti dan Satelit Ring Satu inilah yang akan digunakan sebagai kekuatan inti yang akan dijadikan modal dasar dalam pembentukan Triumvirat Asia : India-Indonesia-Cina. Triumvirat ini akan menjadi pusat industri yang mandiri dan tidak bergantung pada Amerika Serikat, Sovjet Uni atau Inggris. Tapi nasib Sukarno sangat tragis ia ditinggal sendirian oleh para Jenderalnya, dan ia marah soal pembangkangan Jenderal-Jenderalnya soal Malaysia, ia marah soal penyabotan pikiran Angkatan Ke V, sebagai sebuah kolone kekuatan massal yang mampu mengepung secara bersamaan front utara berhadapan dengan Malaysia dan front selatan membuka perang dengan Australia. Lalu penyelesaian lama terjadi, penyelesaian ala Jaman Revolusi 1945 : PENCULIKAN. Penyelesaian yang biasanya diselesaikan dengan cara penghadapan paksa ke penguasa ini malah diselesaikan hanya dengan tembakan prajurit-prajurit kroco di depan pintu rumah para Jenderal dan ini membuat Sukarno tersudut, jutaan orang harus kehilangan nyawanya. Impian Sukarno hancur lebur bersamaan dengan membusuknya ginjal Sukarno dan ia mati dalam kondisi lebih buruk dari pengemis di pasar yang tergeletak tanpa perawatan. Tragedi Sukarno ini akan membuka tragedi bangsanya.

Tembakan prajurit di depan rumah Jenderal itu mengantarkan Indonesia masuk ke dalam fase ketiga : Fase Pembentukan Fundamen Kekuasaan Elite yang sah digunakan saat beberapa Jenderal memaksa Sukarno untuk menandatangani sebuah diktum militer yang kemudian diselewengkan menjadi sebuah nota penyerahan kekuasaan pada 11 Maret 1966.

Seluruh intelektual yang berpikiran barat, anak-anak muda kritis pembaca banyak buku, dan seluruh kekuatan yang ingin Indonesia meloncat ke peradaban liberal yang tidak mau dicekoki : Patung dan Pidato, bersatu menjungkirkan Sukarno. Sementara nun jauh dari Jakarta pembantaian massal terjadi, sungai-sungai banjir darah manusia dan jutaan nyawa manusia dipenggali kepalanya. Sebuah keinginan modernisasi bertemu dengan pembantaian yang akan menjadi trauma seluruh keluarga-keluarga di Indonesia dan ini dua peristiwa ini menemukan muaranya : Bangsa Yang Sakit Jiwa.

Lalu setelah 6 tahun berjalan menjauhi tahun 1965, bangsa yang sakit jiwa ini dikoreksi, muncul gerakan revolusi Mahasiswa di Perancis pada tahun 1968 yang menyadarkan bahwa kehidupan sosial yang penuh nilai-nilai moral akan rusak oleh tatanan kapitalisme. Sementara di Indonesia kapitalisme menemukan benihnya yang jahat : MODAL ASING, HUTANG LUAR NEGERI DAN PEJABAT-PEJABAT KOMPRADOR. Pertemuan-pertemuan politik mahasiswa diadakan dimana-mana, jaringan kampus terbentuk lagi tapi kali ini bukan soal membantai mahasiswa PKI atau CGMI tapi soal membentuk arahan politik baru yang lucunya ketika mereka menendangi pantat PKI di tahun 1966 mereka menoleh pada dasar-dasar pemikiran Karl Marx yang mereka sebut : KIRI BARU, New Left. Gelombang kiri baru ini menjadi arus besar pemikiran di Eropa Barat dan Amerika Serikat, ia membangun bentuknya pertama kali pada pemikiran sastra dan teater lalu merambah pada kritik tatanan masyarakat, di Eropa Barat Kiri Baru diterima tanpa kekerasan karena masyarakat demokrasi sudah terbentuk sempurna, bahkan kiri baru menjadi landasan ekonomi paling penting bagi Eropa Barat dimana kekuatan ekonomi tidak bergantung pada pusat-pusat modal dan barisan pejabat yang korup.

"Negara Tanpa Ketergantungan" adalah tema besar yang awalnya diteriakkan Arif Budiman ditengah seminar New Left pada tahun 1971 menjadi dasar pemikiran baru mahasiswa, mereka menyerang Jenderal-Jenderal kaya, mereka mengeritik negara dengan kekuatan militer dan mereka tersadarkan 'Demokrasi Terpimpinnya Sukarno, Sudah menjadi Negara Neo Fasis oleh Suharto'. Lalu mereka bertanya siapa cukong negara neo fasis ini? jawabnya : Cukong dari kekuasaan neo fasis ini adalah Modal Asing. Dan ketika kelompok Widjojo Nitisastro menyerang Pertamina, kelompok ini juga menyadarkan Orientasi tatanan barat yang diinginkan, muncul kelompok lain yang tiba-tiba menjadi penyeimbang Widjojo cs. Kelompok Hoemardani yang dekat dengan jaringan modal Jepang. Widjojo dan Hoemardani bertempur, sementara rivaalitas para Jenderal berlangsung ketat. Ali Sadikin membangun basisnya, Jenderal Mitro membangun benih-benih pemberontakan mahasiswa dan Ali Murtopo membentuk skenario penjebakan bagi Jenderal-Jenderal yang mulai berlagak menyaingi Suharto. Lalu mahasiswa tanpa sadar terkooptasi permainan para Jenderal ini, mereka gagal membangun kekuatan otentiknya, mereka tidak percaya diri untuk bertindak kecuali bergerak dengan jaminan perlindungan para Jenderal dan mereka tanpa sadar toh para Jenderal itu juga terjebak sebuah permainan intelijen.

Lalu ditengah rapat mahasiswa menemukan momentumnya : Kedatangan Tanaka. Kemudian mereka menyiapkan barisan, menyerbu pusat-pusat negara dan berpidato dimana-mana tapi tahun 1974 bukan jamannya revolusi 1945 dimana rakyat memiliki ruang spontannya, tahun 1974 adalah tahun dimana para intel pegang peranan. Masuklah isu Ramadi, kemudian dokumen itu dibaca Suharto lalu Ali Murtopo mendapat angin, kemudian beberapa sektor di Jakarta rusuh, Jenderal Mitro kehilangan kendali di Jakarta dalam hitungan enam jam dia terlambat menghambat pembakaran di Senen, secara legitimasi sebagai Pangkopkamtib dia gagal dan dia terjebak masuk ke dalam skenario intelijen. Jenderal Mitro dipanggil Suharto dan akan dibuang ke AS sebagai dubes, tapi Mitro menolak lalu keluar dari ruangan Suharto ia bukan siapa-siapa lagi.

Suharto marah-marah di depan helikopter yang mengantarkan Tanaka ke Bandara, tapi Suharto punya kesempatan menggebuk unsur terakhir para Jenderal yang menggangunya dan Suharto memenangkan pertarungan paling penting bagi pembentukan peradaban Indonesia paling fundamental : MODAL ASING DAN KETERGANTUNGAN EKONOMI. Inilah kemenangan yang tidak mungkin lagi dilawan oleh kekuatan apapun. Modal Asing dan Ketergantungan ekonomi menjadi tiang paling kokoh pembentukan elite pejabat. Dari sinilah kemudian lahir pemodal-pemodal kecil di dalam lingkaran Pertamina atau Cendana dan lingkaran ini kelak akan menjadi penguasa justru setelah Suharto jatuh.

Malari 37 tahun adalah sebuah kisah yang bisa menjelaskan peradaban kita. Kenapa di Jalan-jalan raya sistem transportasi hancur lebur tapi mobil-mobil mewah berkeliaran, status manusia bergantung dengan sistem kebendaan, merk mobil akan menjadi status sosial di masyarakat bukan intelektualnya atau gerak sosialnya, Metro Mini dan Kopaja sampai detik ini masih menjadi angkutan ditengah negara lain bisa menyediakan sistem angkutan massal seperti kereta bawah tanah atau trem yang murah tapi nyaman. Manusia Indonesia dibudaki oleh barang-barang asing yang harus ia beli. Pembangunan mall-mall menjadi ruang publik satu-satunya, pusat kebudayaan tidak lagi berada di taman-taman kota dan Balai Masyarakat tapi dibangun di plaza-plaza pembelanjaan. Inilah tragedi sebuah negara yang di awalnya ingin membangun masyarakat sejahtera berkeadilan sosial malah melahirkan : Masyarakat Budak Kebendaan.

Kisah-Kisah Dibalik Sumpah Pemuda


Di pertengahan tahun 1927, suatu saat Sugondo Djojopuspito, Maruto dan Pandu Kartawiguna datang ke kamarnya Mohammad Yamin, mahasiswa RHS (Sekolah Tinggi Hukum), disana Yamin bercerita bahwa ia baru saja bertemu Bung Karno, yang sering diledek pelajar-pelajar Jakarta saat itu sebagai "Bapak Persatuan Dari Bandung". Yamin dengan nada gagah berkata "Bung Karno hanya minta kita bersatu, itu...bagaimana menurut kalian?" Sugondo dengan gayanya yang lembut membalas "Buat saja satu kongres yang menyatakan pemuda bisa bersatu, biar Bung Karno senang" obrolan ini sebenarnya adalah pembuka dari rangkaian kongres yang kelak terjadi, namun jiwa dari obrolan ini sesungguhnya terletak pada ucapan Sjahrir. Saat itu Sjahrir (-kelak jadi Perdana Menteri RI pertama-) masih duduk di AMS (sekarang setingkat SMA). Dia ini pelajar yang badung dan sudah diincar Intel Polisi Belanda, PID. Anak SMA ini sering membuat uraian tentang tulisan-tulisan politis di majalah dinding. Ia menulis revolusi Rusia, ia juga menulis ajakan menentang politik kolonial dan ia cantumkan di majalah dinding, pernah satu saat Sjahrir akan menempelkan tulisan di majalah dinding, Intel Polisi mengejar-ngejar Sjahrir sampai anak itu harus meloncat pagar. Beberapa hari kemudian majalah dinding di AMS Bandung dijaga polisi agar jangan sampai tulisan Sjahrir terpampang disana.

Sjahrir anak muda yang terlalu pintar, ia disenangi oleh mahasiswa-mahasiswa Jakarta yang kerap mengunjungi rumah Bung Karno. Biasanya setelah mengunjungi rumah Bung Karno di Ciateul anak-anak mahasiswa itu nongkrong di Braga disana Sjahrir dengan celana pendeknya menjadi orang yang paling disenangi untuk bicara. Sjahrir ini bukanlah seperti Bung Karno yang selalu menyenangkan lawan bicara, ia memiliki karakter judes dan ceplas ceplos bila bicara tapi Sjahrir sangat cepat dalam mendalami pemaknaan berpikir. Sjahrir yang anak SMA itu berkata "Kalian bicara persatuan, tapi tanpa suatu tindakan penjiwaan terhadap persatuan itu mana bisa?, persatuan itu bukan sekadar konsep untuk menyatukan sebuah perjuangan, tapi ia sebuah gagasan baru, sebuah jaman baru dan lebih besar lagi 'persatuan' itu adalah sebuah peradaban baru. Bisa nggak kalian bikin sebuah peradaban baru bernama Indonesia, sebuah peradaban yang bisa saja seagung 'peradaban yunani', 'peradaban romawi' atau 'peradaban eropa barat' itulah tujuan dari persatuan" kata Sjahrir sambil nyeruput sirop di pinggir jalan Braga.

Omongan Sjahrir inilah yang kena banget di hati Sugondo Djojopuspito, yang perlu mendapatkan perhatian adalah Sugondo ini, dialah pusar segala gerakan sumpah pemuda itu, ia yang mengatur agar PID tidak mengobrak abrik tempat berlangsung sumpah, ia mengakali kepala polisi bahwa kegiatan sumpah pemuda itu sebagai kegiatan debat biasa, dan ia juga mengakali para mahasiswa RHS dan siswa AMS untuk jangan berdebat karena ada kepala polisi, hal ini mempermudah terhadap jalannya kongres, karena kongres sering berlarut-larut karena perdebatan tiada henti. Saat itu terkumpullah 71 pengikrar sumpah pemuda yang diadakan di asrama milik Sie Kok Liong, Cina Semarang yang menjadi pengusaha properti di Jakarta. Sumpah pemuda ditutup oleh permainan biola WR Supratman, yang oleh intel PID dicatat sebagai "Permainan biola kelas jalanan, dan tidak memiliki mutu musik seperti orang Belanda".

Tapi toh kongres berjalan, Sjahrir tidak ikut karena harus ujian sekolah. Bung Karno mungkin tidak hadir karena menganggap itu kegiatan yunior-yuniornya. Bung Karno sudah di dalam lingkaran pemain-pemain pergerakan senior macam HOS Tjokro, Cipto Mangunkusumo, Sam Ratulangie dan Husni Thamrin. Tapi kemudian Bung Karno melonjak gembira saat ia dikabari Yamin bahwa sebuah kongres sudah berlangsung di Jakarta dan menjadi akar dari gerakan-gerakan pemuda selanjutnya. Dan memang anak-anak muda yang ikut dalam kegiatan sumpah pemuda itu banyak yang menjadi pemain politik pada masa revolusi. Yamin ikut Tan Malaka dan tergila-gila dengan kebudayaan Jawa. Sugondo agak tenggelam namanya karena kurang radikal, Maruto menjadi pemimpin banyak pemuda berwatak keras dan menguasai pertempuran-pertempuran di banyak kota di Jawa. Kaum muda menjadi pelopor sejarah.

Kaum muda penggerak sejarah yang besar di tahun 1920-an, adalah anak-anak muda yang dibesarkan pada situasi romantis. Mereka berasal dari kalangan elite, berpendidikan tinggi dan membaca ribuan buku. Mereka manusia berimajinasi dan tidak melandasi sikapnya dengan disiplin yang mendewakan kekerasan tapi ini beda dengan anak-anak muda yang besar di tahun 1940-an, mereka anak-anak jaman yang dibesarkan oleh perang dunia. Dunia mereka keras, dunia mereka penuh banjir darah dan anak-anak muda ini banyak tinggal di barak-barak tentara Jepang. Mereka lahir dari tangsi bukan dari dunia buku. Dunia mereka kokang senjata bukan berdebat dan tertawa.

Generasi 45 inilah yang kemudian menjadi paling mewarnai dalam sejarah. Generasi perang ini membentuk sikap keras. Perdebatan tidak lagi menjadi suasana intelektual perjuangan dalam membentuk dan menganalisa masalah tapi sebuah todongan pistol dan meletakkan bayonet di leher menjadi alat diskusi. Semua tokoh politik yang berusaha memanfaatkan radikalisasi pemuda dalam memainkan senjata ini habis dengan kekerasan, nasib meminta Tan Malaka yang memanfaatkan militansi pengikutnya dengan membentuk Barisan Banteng dan Murba justru dibunuh di Jawa Timur. Amir Sjarifudin yang memanfaatkan Pesindo habis di Boyolali oleh pasukan Gatot Subroto. Pemuda tangsi kemudian menjelma menjadi satu generasi dengan masa yang panjang menguasai Indonesia. Sukarno berusaha memanfaatkan namun juga habis oleh generasi ini.

Sukarno adalah satu-satunya orang yang paham mengarahkan energi muda pada sebuah pertarungan besar. Ia berhasil membangun militansi, membentuk barisan-barisan sukarelawan, membentuk imajinasi perjuangan bersama tentang kebangsaan dan jutaan pemuda disiapkan menyerbu Malaysia. Walaupun kemudian muncul sekelompok anak muda dari kalangan elite yang mengeritisi daya juang Sukarno, mereka dibesarkan alam pikiran Liberal Amerika Serikat dan jelas-jelas anti komunis. Sekelompok anak muda ini menolak mitos Sukarno. Aliran anti Sukarno ini justru bertemu dengan kemarahan barisan perwira nasionalis kolot setelah enam jenderal diculik.

Barisan perwira kolot ini dibesarkan dalam alam pikiran sederhana, berwatak priyayi feodal, pendukung nasionalisme dalam artian sempit dan tidak berdimensi intelektual. Barisan perwira ini yang kemudian pegang negara. Ironisnya barisan perwira yang tidak mengidahkan Intelektualitas ini justru berkompromi dengan barisan mahasiswa kritis anti Sukarno lalu terjadilah 'Monsterverbond' persekutuan jahat dalam penggulingan Sukarno. Monsterverbond yang hanya berlangsung sesaat setelah itu dikoreksi pada tahun 1974 saat peristiwa Malari.

Suharto pusar dari barisan perwira ini menghancurkan gerakan muda. Awalnya ia menghabiskan gerakan paling lemah dalam dinamika masyarakat yaitu : Gerakan perempuan, lalu Suharto menghantam gerakan muda. pertama kali dihancurkan Gerakan Pemuda Rakyat. Gerwani dan Pemuda Rakyat diibliskan oleh kelompok ini untuk masuk dan ikut bertanggung jawab dalam peristiwa penembakan enam jenderal. Lalu Suharto menggiring mahasiswa mendukung dia. Gerakan pemuda oleh Suharto dimasukkan ke dalam sistem. Semua masyarakat harus masuk dalam sistem formal dimana seluruh saluran sistem formal masuk ke dalam lingkaran kekuasaan yang berpusat pada Suharto.

Formalitas ala Suhartorian inilah yang kemudian menghancurkan seluruh jiwa dari dinamika gerakan pemuda. Kaum muda gagal memahami sistem tapi juga selalu merasa senang berada diluar sistem. Anehnya kaum yang diluar sistem diam-diam mengagumi kelompok di dalam sistem. Fenomena aktivis yang berbalik menjadi pemuja kekuasaan adalah fenomena umum yang dilahirkan dari sistem masyarakat Suhartorian.

Formalitas menjadi segalanya. Orang menganggap berjuang harus masuk ke dalam sistem : Menjadi bagian Partai Politik resmi, Menjadi bagian dari parlemen dan menjadi bagian dari kekuasaan yang menyeluruh. Mereka lupa bahwa tanpa masuk sistem-pun mereka bisa merubah sejarah. Gerakan muda menjadi sebuah arus besar-besaran untuk masuk sistem bahkan kerap menjadi pelacur bagi kekuasaan. Himpunan-Himpunan Mahasiswa hanya dijadikan alat untuk mempermudah karir bagi mereka, mereka memperluas jaringan untuk dipersiapkan masuk ke dalam sistem itu. Setelah masuk ke dalam sistem mereka main proyek dan menjadi makelar anggaran lalu menjadi pelobi untuk melanggengkan sistem yang rusak.

Konstitusional kita dikelabui seakan-akan seluruhnya bergerak dalam satu sistem yang sejatinya adalah mengarah pada kekuasaan. Baik kekuasaan ketua partai atau kekuasaan para pemodal. Selama arah pikiran kita terpaku pada arus sistem itu sampai kiamat pun Indonesia tidak akan berubah. Kita perlu gerakan-gerakan muda yang memancing agar sistem ini hancur, Sistem Suhartorian.

ANTON

Foto Kerja Sukarno dan Agus Salim Saat Revolusi



Politisi jaman dulu bekerja buat rakyatnya dan membangun negerinya dengan pemikiran yang sungguh-sungguh serta tidak berharap mendapatkan kekayaan materi lihatlah Agus Salim dan Bung Karno ini yang terus menerus bekerja secara marathon untuk segera membereskan persoalan-persoalan perang di Indonesia. Agus Salim tidak tidur sepanjang malam, Bung Karno terus menerus membuat konsep yang bisa disebarkan ke beberapa orang delegasi perundingan serta melakukan perintah-perintah politik kepada para Jenderal perangnya untuk melakukan strategi menahan pasukan dan menyiapkan beberapa kantong militer di wilayah Republik. Foto ini dibuat sekitar tahun 1947. Dua tahun kemudian Bung Karno dan Agus Salim ditangkap Belanda dan dibuang ke Bangka.

Agus Salim hidupnya miskin, ia hanya tinggal di sebuah gang kecil yang becek dimana Moch. Roem pernah mengisahkan hal ini. Tapi orang macam Agus Salim meninggalkan jasa yang luar biasa terhadap republik ini, begitu juga dengan Sukarno, dengan Hatta, dengan DN Aidit, dengan Hamka, dengan Sudirman, dan banyak tokoh lain yang melarat hidupnya. Tapi cobalah liat anggota DPR sekarang, untuk mengerjakan hal yang sebenarnya hanya berbiaya 10 juta rupiah saja bisa dianggarkan sampai 22 Milyar. Jadi saat kita makan di Restoran, saat kita menerima struk gaji, saat kita bayar parkir mobil dan saat kita beli tiket bioskop pajak yang dipotong dari transaksi kita itu digunakan untuk hura-hura para anggota Dewan.

Para pendahulu kita bekerja keras untuk mengembangkan negeri ini, memajukan kecerdasan bangsa ini dan menyumbangkan tenaganya -Onderbank werk- untuk rakyat yang dicintainya. Para perampok anggaran di DPR menggarong duit negara yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan bangsanya dan ironisnya mereka disebut : "Anggota Dewan Yang Terhormat".

Sam Ratulangie Orang Yang Mempengaruhi Rasa Nasionalisme Sukarno


Tahukah anda siapa orang yang pertama kali mempengaruhi konsepsi tentang Indonesia dan nama Indonesia kepada Bung Karno? Orang itu adalah Sam Ratulangie. Sam Ratulangie ini putera Manado yang teramat cerdas, ia adalah lulusan Universitas Amsterdam dan kemudian mengambil gelar doktornya bidang fisika dan matematika di University of Zurich tahun 1919, sementara 14 tahun sebelumnya tahun 1905 einstein mengambil gelar doktoral di universitas yang sama.

Sam Ratulangie melanglang buana ke berbagai tempat termasuk akhirnya pulang ke Jawa dan tinggal di Yogyakarta. Pada suatu malam di kota Yogya ia berpikir tentang sebuah konsepsi tentang nama Indonesia. Sam Ratulangie berpikir bahwa Hindia Belanda harus mempunyai satu nama yang bisa dikenal orang dan ia memutuskan kata Indonesia. Sementara yang lain masih menggunakan bahasa Belanda seperti : Indische, Indonesische atau Hindia Belanda. Sam Ratulangie-lah orang pertama yang menggunakan ejaan : INDONESIA. Akhirnya sekitaran awal tahun 1920-an Sam Ratulangie pergi ke Bandung dan mendirikan perusahan asuransi yang bernama Assurantie Maschapaj Indonesia. Ini adalah perusahaan pertama di Indonesia yang menggunakan kata : INDONESIA.

Sekitar tahun 1923, Bung Karno berjalan-jalan sore di kota Bandung, maksudnya ia ingin pergi ke Braga tapi entah kenapa malah nyasar ke rumah Sam Ratulangie, dari jam 5 sore sampai jam 11 malam, Bung Karno dan Sam Ratulangie berdiskusi tentang sebuah bangsa yang kemungkinan bisa dibangun di Hindia Belanda, dan kesan Bung Karno menangkap bahwa yang ia harus pikirkan adalah konsepsi nasionalisme Indonesia ketimbang konsep Internasionalisme seperti Komunisme atau Pan Islamisme - sampai sebelum bertemu Sam Ratulangie. Bung Karno masih berkonsep Pan Islamisme karena pengaruh HOS Tjokroaminoto-. setelah keluar dari pintu rumah Sam Ratulangie, pikiran Bung Karno tentang negara berubah total, Bung Karno menjadi seorang pemikir besar dalam bidang Nasionalisme dan ini berkat pengaruh Sam Ratulangie yang kemudian dipertajam dengan pemikiran-pemikiran Dokter Tjiptomangunkusumo.

Nasionalisme Sam Ratulangie adalah nasionalisme kemanusiaan, satu prinsip Minahasa yang ia pegang "Si Tou timou tomou tuo" yang artinya : Manusia baru disebut manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Tahun 1937-1938 Sam Ratulangie keluar masuk penjara demi mempertahankan ide-ide kebangsaan Indonesia Raya. Setelah ia agak tidak dikejar untuk dibui Sam Ratulangie menjadi editor di Nationale Commentaren sebuah majalah berita berbahasa Belanda.

Ketika Indonesia merdeka sekitar tahun 1946 Sam Ratulangie bertemu dengan Bung Karno, oleh Bung Karno Sam Ratulangie diangkat menjadi Gubernur Sulawesi Utara. Dan sejarah menyaksikan Indonesia lahir dari pikiran putera Minahasa yang luar biasa ini.

Membaca Pikiran Sukarno

Tidak seperti Suharto yang berpikir bahwa kekuatan terbaik adalah diri sendiri, adalah kemampuan diri sendiri dan orang-orang terdekatnya dimana Suharto selalu memperhatikan keadaan orang-orang terdekatnya dan ia tidak pernah percaya pada kekuatan diluar lingkaran terdekatnya. Sukarno selalu berpikir bahwa kekuatan terbaik adalah "Sesuai Kebutuhan Sejarah". Apabila Suharto sangat percaya pada intuisi-nya maka Sukarno sangat percaya pada Intelektualitas dan kemampuannya dalam menafsirkan arah gerak sejarah. Dari arah gerak sejarah inilah Sukarno menentukan "Siapa Teman, Siapa Lawan".

Sukarno mendirikan PNI 1927 dengan memanfaatkan kehancuran total PKI. Disana ada kevakuman sejarah dan dengan lompatan luar biasa ia mampu menjadi "Pemimpin Nasional" Sementara semua jago-jago lama Komunis berlarian ke luar negeri dikejar intel Belanda dan Inggris, sebagian besar ditangkapi dan dipenjarakan ke Digul, Sukarno membangun ruang gerak baru bernama Nasionalisme dan sontak ia menjadi raksasa baru dan pusat perhatian seluruh bangsa. Sukarno dengan cepat menjadi pemimpin dengan memanfaatkan keadaan. -Sukarno dengan lihai memanfaatkan kehancuran PKI kemudian menjadikan Nasionalisme sebagai arus besar sejarah - inilah keberhasilan pertama Sukarno.

Di Jaman Jepang Sukarno memilih bergabung dengan Jepang, pertimbangannya sederhana : Apabila Jepang menang perang dalam pertempuran Asia Pasifik maka Indonesia langsung merdeka dan menjadi anggota Persekutuan Asia Timur Raya. Sukarno selalu melihat kondisi geopolitik. Di tahun 1931 dia selalu berbicara "Kemerdekaan Indonesia bergantung pada Perang Asia Pasifik" dan tidak ada satupun ahli politik serta pemimpin dunia yang memperkirakan ada perang Asia Pasifik hanya Sukarno yang berkata demikian, pada tahun 1942 saat Jepang mengebom Pearl Harbour dan Perang Pasifik dimulai barulah orang sadar bahwa Sukarno selalu mengatakan demikian 10 tahun sebelumnya. Saat mendengar kabar AS mengumumkan perang dengan Jepang, Sukarno berkata dengan Inggit "Nggit, Aku merasa inilah saatnya Indonesia Merdeka". Sukarno sudah paham lama satu-satunya kekuatan yang bisa mengusir Belanda adalah kekuatan luar dan ia harus memanfaatkan kekuatan luar.

Sukarno pulang ke Jakarta dan memanfaatkan kekuatan Jepang untuk mengeliminir semua aset Belanda dan menjadikan namanya tetap Flamboyan di tengah rakyat. Walaupun di Jaman Jepang ia dikatakan bertanggung jawab terhadap Romusha namun itu bukanlah kerjaan Sukarno, justru Sukarno yang meminta Jepang agar Indonesia punya kekuatan militernya sendiri. Sukarno paham kunci setelah Perang Pasifik adalah kekuatan militer antar wilayah dan Indonesia harus jadi tandem yang seimbang apabila Jepang menang perang atau kalau Jepang kalah perang maka Indonesia harus punya Angkatan Perang-nya untuk berhadapan dengan pemenang perang : 1. Amerika Serikat (menurut perhitungan Sukarno akan berpangkalan di Filipina dan menjadi dominasi di Asia Tenggara) 2. Inggris (berpangkalan di Malaya) 3. Sovjet Uni (Yang menurut perkiraan Sukarno akan mencari tempat baru di Asia Tenggara).

Asia Tenggara selalu menjadi titik perhatian Sukarno, ada dua wilayah Asia Tenggara yang dijajah oleh kekuatan lemah Internasional : 1. Indochina dan 2. Indonesia. Indochina dijajah Perancis dan Indonesia dijajah Belanda. Dua titik lemah inilah yang diperkirakan Sukarno akan dikuasai Moskow atau Peking. Disinilah Sukarno menempatkan dirinya sebagai pemain politik Internasional, langkah pertama yang ia lakukan adalah menghindari Indonesia menjadi satelit Moskow dan Peking. Ia melihat Peking masih lemah dan bisa ia manfaatkan setelah menjadi raksasa dunia sementara satu-satunya kekuatan besar adalah Moskow.

Akhirnya memang Moskow masuk ke Vietnam, tapi Cina-lah yang memenangkan perang di Vietnam. Sukarno adalah orang paling cerdik dalam memanfaatkan ini. Disatu sisi ia memegang Tan Malaka dengan melakukan deal politik untuk menyambungkan kekuatan laskar rakyat sebagai beking tentara resmi yang masih lemah, Sukarno menemui Tan Malaka pada September 1945. Kemudian di sisi lain ia pegang Sjahrir. Tujuan utama dari politik Sukarno 1945 adalah "Mencegah agar jangan Moskow bermain di Jawa" Apabila Moskow bermain di Jawa maka resikonya Belanda akan memanfaatkan kekuatan Amerika Serikat untuk menghantam Komunisme sebagai Project Pertama kali "Membendung Kekuatan Merah di Asia" yang memang sudah diperkirakan oleh Churchill sebelumnya, kata Churchill "Setelah Hitler, Musuh kita adalah Stalin". Maka Sukarno berpegang kuat-kuat pada doktrin Churchill ini, dan hanya ada dua kekuatan yang bisa menghindari Indonesia dari Moskow : Tan Malaka yang dibenci Moskow dan Sjahrir cs yang berkiblat pada Eropa Barat. Sukarno memanfaatkan dua orang ini sebagai tangan kanan dan tangan kirinya lalu berhasil. Sukarno dengan cerdas memperpendek perang dan kemudian ia melakukan perang besar selanjutnya : Revolusi Indonesia Sesungguhnya.

Revolusi Sukarno sesungguhnya adalah Revolusi Modal. Dan ini ia buktikan di tahun 1960, Sukarno tau bahwa Indonesia adalah negara paling kaya di muka bumi, dan kekayaan terbesar di Indonesia justru di wilayah Irian Barat. Irian Barat harus dijadikan lumbung modal Indonesia untuk menguasai politik di Asia Tenggara dengan menguasai politik di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi kekuatan nomor empat dunia setelah Amerika Serikat, Sovjet dan Cina, maka Sukarno memilih pembantu terdekatnya adalah Subandrio. Lagi-lagi Sukarno menunjukkan kejeniusan luar biasa, ia memanfaatkan kemampuan diplomasi Subandrio untuk menekan Kennedy. Sukarno menodong Kennedy apabila persoalan Irian Barat tidak beres maka AS akan menghadapi dua front di Asia Tenggara : Front Hanoi dan Front Jakarta. Kennedy mengalah dan memerintahkan Belanda mundur setelah 'Gertak' Sukarno dengan puluhan pesawat buatan Sovjet dan beberapa korvet yang siap menyerang ke Irian Barat dan mempermalukan Belanda.

Kennedy dimusuhi CIA setelah mengalah pada Bung Karno dan ditembak mati dengan meninggalkan cerita politik konspirasi. Lalu naiklah Lyndon B Johnson orang yang sangat keras dalam soal Asia Tenggara. Ia masuk ke Vietnam dengan brutal. Sukarno melihat bahwa persoalan Vietnam akan menjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa, ia berniat menghentikan perang di Vietnam dengan membangun poros persekutuan di luar AS. Sasaran antara Sukarno adalah Inggris dan mendepak Inggris dari Asia Tenggara. Karena bagi Sukarno, Inggris adalah otak bisnis di Asia Tenggara sementara Beking Keamanannya AS. Tapi Sukarno tau bahwa berhadapan dengan AS langsung tidak akan bisa maka Sukarno memperhatikan perkembangan politik di Peking. Mao sedang naik daun, kekuatan merahnya menggetarkan Amerika Serikat, Sukarno ingin memanfaatkan Mao Tse Tung bertarung langsung dengan AS di Asia Tenggara, Sukarno yakin Mao pasti menang karena keinginan utama AS bukanlah perang tapi dagang. Ini dibuktikan ketika Amerika mundur secara memalukan dari Perang Korea.

Maka untuk melancarkan hegemoni Indonesia di Asia Tenggara, Sukarno membuka front dengan Inggris di Kalimantan Utara. Lagi-lagi Sukarno menggunakan politik gertak. Apabila penguasaan Irian Barat, Sukarno memanfaatkan panasnya politik AS-Sovjet. Maka dalam kasus Ganjang Malaysia sesungguhnya Sukarno sedang nge-test Cina sebagai kekuatan di Asia. Dengan memanfaatkan kekuatan Cina maka Indonesia akan bisa memperpendek perang di Vietnam dan menghentikan pembantaian Amerika disana. Dengan menguasai hegemoni di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi negara paling kaya di Asia setelah Cina.

Tapi pemikiran Sukarno yang melompat jauh ke depan, pemikiran Sukarno yang sudah paham tentang pertarungan modal tidak pernah mampu dibaca tandem-tandem politik di dalam negeri. Terbukti Sukarno diboikot Jenderal-Jenderalnya sendiri dalam kasus Ganjang Malaysia. Sukarno dikentuti orang-orang yang belagak Intelektual tapi tidak bertanggung jawab.

Apabila Sukarno berhasil memainkan politik Ganjang Malaysia maka Irian Barat tidak akan jatuh ke Freeport, sepenuhnya kekayaan alam Indonesia dibangun untuk bangsa Indonesia dan kekayaan negara. Tidak ada yang namanya sekolah harus bayar, Rumah Sakit harus bayar. Indonesia akan diciptakan oleh Sukarno sebagai negara paling memakmurkan rakyatnya dan memang step pertamannya adalah menciptakan struktur modal.

Inilah kejeniusan Sukarno yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua, dialah bapak bangsa yang mewarisi kekayaan nasional bangsa Indonesia. Bukan mewarisi hutang ribuan trilyun seperti yang dilakukan Suharto dan mungkin juga SBY.

Sukarno dan Pancasila



Pancasila..saudara-saudara merupakan Overtrekking, puncak dari segala puncak penemuan Ideologi. Oleh kerna Marx menemukan bagaimana menghancurkan daripada sistem harga-harga yang diciptakan oleh kaum Borjuis, sistem manipulasi borjuis yang menghasilkan penindasan, Oleh karena Jefferson menemukan bagaimana sebuah negara bisa dieksperimen, bisa dibentuk dan bisa dibuat dalam sebuah gagasan besar tentang 'Manusia menjadi segala pusat kerja' sehingga membentuk negara yang kuat dan kaya raya. Maka Pancasila adalah perpaduan keduanya!!...

Perpaduan daripada gagasan menghilangkan penindasan seperti yang dimaklumkan Karl Marx, sebagai gagasan besar tentang membangun sebuah bangsa raksasa seperti yang diinspirasikan oleh Jefferson. Maka Pancasila juga mengambil daripada gagasan raksasa tentang penghargaan kemanusiaan yang telah dilahirkan Abraham Lincoln. Oleh kerna itu, aku ini sedjak muda memperdjoangkan daripada gagasan-gagasan ini, kuncinya satu..hanya satu!!...PERSATUAN. Persatuan adalah kunci dari segala kunci membentuk Modal Indonesia Raya, Indonesia Raya yang mampu, yang bisa menjadi MERTJU SUARNYA DUNIA...Menjadi arah pemandu daripada pembebasan manusia, menjadi sebuah avant garde dari Menghormatkan kemanusiaan. Peradaban manusia ditentukan oleh sikap saling hormat menghormati tiada ...tiada...tiada Penindasan, tiada penindasan...tiada penindasan sekali lagi ...saya kataken Tiada penindasan!!!! diantara persoon dengan persoon, negara dengan rakyatnya dan negara yang kuat dengan negara yang lemah.


Aku katakan padamu, aku telah melewati begitu banyak kejadian, melewati kehidupan penuh bahaya ini, mata tuaku sudah melihat begitu aneka rupa kedjadian, aku melihat jatuh bangunnya bangsaku, aku melihat dunia kecil dari jeruji penjara, dan kini ditengah kalian hai bangsa-bangsa yang baru merdeka, hai para pemimpin-pemimpinnya dunia, saya kataken : TIDAK UNTUK PENINDASAN, TIDAK UNTUK PENJAJAHAN. Dan penjajahan bukan saja lagi penjajahan yang mengancam rakyat dengan penjara bukan lagi penjajahan yang menendangi kepala petani dan kaum buruh, tapi penjajahan yang dibentuk oleh modal.

Indonesia Raya dibangun untuk membebaskan manusianya, dibentuk untuk memakmurkan bangsanya dan digagas untuk menjadi sebuah tempat : Berkumpulnya Manusia Baru, yang punya semangat menggebu-gebu, punya kekuatan maha raksasa untuk mengubah dunia, menjadi dunia yang nyaman bagi seluruh umat manusia. Itulah inti dari Revolusi Indonesia............

Kuliah Hukum-Hukum Revolusi




Kuliah Hukum-Hukum Revolusi

PENGANTAR

Revolusi adalah perubahan yang cepat atas susunan masyarakat, ia terdiri dari ribuan katalisator yang mengubah keadaan. Dalam revolusi perubahan keadaan bergerak sangat cepat bisa dalam hitungan jam. Dalam sejarah Indonesia modern Revolusi atas susunan masyarakat hanya terjadi dua kali dan ini menelan korban yang luar biasa. Pertama : Revolusi Egaliter 1945 dan Kedua, Revolusi Elitis 1965.

Pada hakikatnya revolusi adalah mengubah pola pikir, mobilitas status sosial, mengubah susunan logika yang terbangun mapan, mengubah kebudayaan, mengubah arus informasi dan yang paling penting revolusi adalah mengubah : PETA MODAL. Tentang peta modal inilah yang tidak pernah dibahas baik dalam hukum-hukum revolusi Lenin, hukum-hukum revolusi Mao atau hukum-hukum revolusi Sukarno baik Lenin, Mao dan Sukarno bergerak dan terpaku pada mobilitas sosial saja, mereka tidak mendefinisikan pemetaan gerak Modal sehingga revolusi mereka penuh propaganda tapi gagal memasukkan konstelasi gerak modal sehingga mereka kerap terjebak pada persoalan-persoalan budaya, persoalan-persoalan logistik dan persoalan-persoalan wilayah (geopolitik) mereka gagal memenuhi analisa perkembangan masyarakat yang ditentukan hanya dan oleh hanya satu soal : MANUSIA.

Di Indonesia tahun 1998 adalah bukan tahun revolusi, tapi tahun gagalnya rezim masyarakat tertutup menahan gempuran arus informasi yang dikembangkan oleh Internasionalisme Liberal lewat Internet, Asimetri Informasi tidak lagi monopoli Cendana and his gang tapi sudah dipancarkan lewat beberapa fraksi yang pecah kongsi dengan Cendana seperti : Militer, Cendikiawan dan Agamawan. Pemeran utama dalam reformasi 1998 tetaplah orang-orang yang dibesarkan oleh rezim Suharto, dibesarkan oleh modal Suharto dan dibesarkan oleh logika-logika Suharto. Terlepas dari habisnya kelompok cendikiawan yang dibabat Suharto sejak penangkapan besar-besaran mereka di tahun 1968 dan pembuangan mereka ke Pulau Buru sampai pembebasan mereka 1978-1982 sehingga Indonesia hanya menyisakan intelektual humanis berlagak liberal yang jelas sejak Malari 1974 Intelektualitas diluar arus Suharto nyaris tidak ada kecuali suara-suara rakyat yang tidak sistematis sifatnya.

Ini menjadi jelas bagi kita bahwa selama sepuluh tahun ini sesungguhnya kita mengalami transfer of authority semu, sebuah perpindahan kekuasaan dari panggung Suharto yang teatrikal, penuh drama, taat narasi ke panggung lawak yang konyol, sarkastis, penuh adegan slapstick dan diselingi pertunjukan sulap. Dan sebagai gerak sejarah yang alami maka intermezzo panggung lawak ini akan berakhir menuju panggung yang sesungguhnya : Cerita Inti. Masalahnya cerita inti sejarah kita bergerak kemana : Melanjutkan Cerita Suharto apa Cerita Sukarno atau Menuju Sesuatu yang tak pasti? Inilah problema yang dihadapi bangsa ini sementara perpindahan panggung ini jelas membutuhkan perubahan total di masyarakat, dan inilah arti penting untuk menyadari ‘HUKUM-HUKUM REVOLUSI’. Hukum-hukum revolusi adalah sebuah gerakan modus untuk menguasai keadaan, membimbing keadaan dan menciptakan bangunan keadaan. Ini harus terstruktur sepenuhnya dan tidak acak, bila acak maka masyarakat akan kehilangan pegangan. Tapi hukum-hukum revolusi tidak boleh menyentuh jiwa dari masyarakat yaitu : hubungan-hubungan batin yang akan menyebabkan trauma, bila ini terjadi maka kita akan mengulangi masa penuh trauma seperti yang dilakukan Suharto ketika membentuk masyarakatnya seraya bertanggung jawab atas pembantaian 3 juta nyawa, pecahnya hubungan keluarga-keluarga, rusaknya hati nurani dan membentuk masyarakat paranoid.

Hukum-hukum revolusi Pertama harus mengantarkan pada manusia Indonesia pada : Pembebasannya, sebuah bangunan yang diinginkan oleh mimpi, oleh alasan dan oleh gerak intelektual seperti yang ditasbihkan pada Pembukaan Konstitusi 1945. Pembukaan inilah definisi bangsa Indonesia. Tidak bisa tidak, kecuali bangsa ini membubarkan Republik Indonesia yang dinotariskan pada rumah Sukarno di Pegangsaan. Konstitusi ini adalah kesepakatan bersama atas definisi mimpi membentuk bangsa itu.

Kedua, hukum-hukum revolusi tidak boleh lepas dari situasi keilmiahannya, ilmiah adalah syarat paling utama membentuk masyarakat modern. Ilmiah adalah satu-satunya pilihan dalam menentukan pilihan masyarakat yang kritis dan menempatkan manusia pada kemanusiaannya. Agen-agen revolusi yang berada dalam lingkaran dalam revolusi adalah manusia-manusia yang sudah tersadarkan intuisi keilmiahannya, ia tidak boleh menjadi bagian dari tahayul, bagian dari irasional dan muncul diluar logika-logika kemanusiaan maka bila ini terjadi revolusi hanya mengantarkan manusia pada satu lembah yaitu : Masyarakat Mitos. Masyarakat Mitos ini adalah penghalang pertumbuhan sehat masyarakat dan percaya atau tidak selama 60 tahun lebih kemerdekaan Indonesia, kita terjebak pada masyarakat mitos itu. Dan puncak dari mitologi itu adalah : SAKRALITAS KEKUASAAN.

Pembongkaran sakralitas kekuasaan sudah dilakukan pada reformasi 1998 tapi justru membangun sakralitas kekuasaan yang baru yaitu : Agen Modal. Agen-agen modal yang tumbuh pada tahun 1980-an ini seperti cerita Machiavelli pada Pangeran Medici tentang Pangeran-Pangeran Perancis yang berkuasa disetiap wilayahnya sehingga kekuasaan Perancis mudah dikuasai tapi tidak mudah di’absolutkan’. Agen-agen modal inilah yang juga menentukan siapa Raja, siapa Bandit. Mereka menjadi pemegang konsorsium Republik dan berhak atas seluruh klaim nasional. –Tapi perlu diingat panggung yang mereka selenggarakan masih lemah karena mereka bergantung pada modal asing, mereka bergantung pada pasar uang asing dan mereka bergantung pada konstelasi gerak uang yang berputar. Inilah tumit Achilles mereka, sementara hak daulat modal bisa dibangun oleh jutaan manusia Indonesia yang bergerak di Pasar-Pasar, yang bergerak di sektor menengah, oleh pengusaha-pengusaha kecil menengah dan oleh kaum intelektual yang tumbuh di tepi-tepi kota dan desa. Kelompok inilah yang kelak akan meruntuhkan dan membawa Indonesia ke panggung berikutnya.

Teori yang saya uraikan pada paragraf diatas sudah cukup masuk dalam hukum revolusi pertama ciptaan Sukarno : ‘Menentukan lawan dan kawan’. Tapi demarkasi ini tidak akan semudah Sukarno dalam mendefinisikan siapa lawan, siapa kawan. Tidak akan semudah ciptaan redaksional Kontrarevolusi, kontrev, si kepala batu tapi dengan mengimajinasikan lawan dan kawan berarti kita sudah masuk pada fase awal perubahan dan ini menjadi panduan sebelum masuk ke dalam hukum-hukum Revolusi yang akan saya uraikan nanti tapi sebelumnya saya akan sodorkan Prolog kepada anda : masyarakat otentik apa yang sudah terbangun di Indonesia. Hal ini sebagai pengantar panggung masyarakat mana yang akan kita pilih, revolusi jenis apa yang akan kita mulai seandainya rezim SBY selesai sehingga kita bisa menentukan panggung kita, bisa menentukan narasi kita lalu kita mampu menentukan masa depan.

TEMA BESAR

Pengantar Hukum-Hukum Revolusi ini akan menjelaskan dulu apa tema besar dalam revolusi, seperti yang kita lihat selama sepuluh tahun ini bangsa ini tidak memiliki tema besarnya. Terutama sekali lima tahun belakangan dibawah kepemimpinan Rezim Peragu Susilo Bambang Yudhoyono. Tema besar yaitu : Lompatan Masyarakat, Lompatan kebudayaan, Lompatan cara berpikir dan Lompatan ekonomi dimana mustinya pemerintahan ini selama masa damai setelah Pemilu (2004-2009) membangun landasannya, tapi itu disia-siakan dan mereka bergembira atas ketidaktahuan mereka menyia-nyiakan waktu.

Mari kita lihat ke belakang tentang gerak sejarah kita, Indonesia dibangun dengan basis lompatan yang luar biasa. Coba catat : Dalam sepuluh tahun yaitu : 1945-1955 Indonesia bisa memimpin Bangsa-Bangsa Asia Afrika menemukan identitas nasionalnya, dalam sepuluh tahun Indonesia mampu menjadikan sebuah negara dengan sistem masyarakat yang saling bergesek tapi menuju pada arah persatuan yang solid. Namun lompatan besar sepuluh tahun itu terganggu oleh konstelasi politik Internasional yaitu : Tatanan Dunia Berdasarkan Blok. Blok Kanan dan Blok kiri pada dasarnya kedua blok ini adalah Imperialis, inilah yang mendasari Tan Malaka untuk mengucapkan kalimat terkenalnya : “Kita tidak mau menjadi budak Imperialis Amerika pun tidak mau menjadi Budak Moskow” lalu berdasarkan analisa ini maka Sukarno di tahun 1953, pada sebuah malam yang dingin ketika ia membacai buku-buku geopolitik dan mendalami lagi Ernst Renan, maka ia berkesimpulan : “Langkah Pertama adalah menyelamatkan wilayah modal Republik, langkah kedua adalah mendefinisikan pola Imperialisme baru sehingga kita bisa mendeteksinya sekaligus menciptakan gerakan perlawanannya”. Jelasnya definisi Sukarno ini masih abstrak sampai ia menemukan polanya di tahun 1958 saat Pesawat Pope jatuh maka Sukarno sudah menemukan alasannya dalam membentuk konsolidasi kekuasaan demi menyelamatkan politik modal. Ia membaca gejala bahwa Amerika Serikat akan masuk dalam garis geopolitik Indonesia.

Lalu lahirlah tema besar Sukarno, TRISAKTI : Politik Mandiri, Ekonomi Berdikari dan Berkebudayaan Otentik. Ini adalah tema luar biasa dan meloncati logika umum yang tidak dimengerti banyak orang.

(Bersambung : TRISAKTI DAN TEMA BESAR PENGHANCURAN POLITIK MODAL)